Minggu, 10 Juni 2018

Atiqah Hasiholan dan Obrolan Perempuan dalam Lingkar HIV

Kemarin saya bertemu dengan Atiqah Hasiholan. Public figure yang wara wiri di layar televisi saya. Sosoknya lebih cantik dari apa yang selama ini saya lihat di televisi. Ditambah lagi dia datang bersama putrinya Salma, rasanya saya semakin kesengsem memandanginya. Such a perfect wo
man. Dalam lesempatan 3 jam yang sangat berharga kemarin, saya dan Kiki teman saya yang juga sama - sama di satu organisasi IPPI diminta untuk membantu Atiqah mendapatkan pemahaman tentang HIV, perempuan dan anak.

Sudah tentu kami senang sekali mendapat kesempatan berharga ini. Atiqah sangat membuka dirinya untuk menerima segala macam informasi dan cerita dari pengalaman kami berdua. Selain itu dia juga tidak ragu untuk bertanya atau memberikan pendapat dari apa yang kami utarakan.

Sepanjang ngobrol saya berandai - andai, jika ternyata ada lebih banyak seniman, aktor, publik figure ataupun orang - orang di pemerintahan yang mau membuka diri seperti Atiqah Hasiholan. Membuka dirinya untuk mendapatkan pemahaman - pemahaman baru yang mungkin selama ini tabu untuk diketahui. Atau terlalu malas untuk mencari informasi tersebut, dengan alasan thats not my problem.

Kemarin kami tidak hanya membicarakan definisi HIV serta semua istilah dan persoalan yang mengharuskan kita menjadi lebih cerdas dalam mengakses informasi. Saya dan Kiki juga bercerita tentang bagaimana perempuan dalam ruangnya menjadi salah satu kelompok yang paling rentan tertular HIV. Bukan karena perilaku, namun karena konstruksi masyarakat yang menyebabkan itu semua.

Sebagai contoh, pernikahan dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan wajib untuk dijalani oleh manusia. Perempuan jika semakin tua dia tidak menikah, maka dianggap memalukan, sulit dapat jodoh, dan lain sebagainya. Laki laki tidak pernah punya masalah dengan soal itu. berapapun usianya menikah, tak akan membuat kondisi laki laki menjadi berbeda. Persoalan tidak selesai sampai disana. Setelah menikah, perempuan akan mendapat tanggung jawab yang sangat besar dari konstruksi sosial tersebut.

Perempuan harus patuh pada suami, harus segera hamil dan memiliki anak, membesarkan dan mendidik sang anak, perempuan harus tetap berada di rumah tidak boleh bekerja atau beraktifitas tanpa seijin suami, perempuan harus menjaga rumah serta isinya agar tetap ada di tempat dan tetap rapih. Selain daripada itu, perempuan mendapat beban terbesar sebagai penjaga nama baik keluarga. Hal - hal yang saya sebutkan akan menjadi pintu gerbang terbesar perempuan mendapatkan HIV. Saya akan coba uraikan satu persatu.

Perempuan harus patuh pada suami, suami tidak perlu patuh. Bukankah lebih baik suami dan istri menjadi partner yang baik, yang saling mendengarkan dan memberikan masukan. Persoalannya bukan patuh. Istri tetap memiliki hak untuk menolak keinginan suami jika ada kondisi yang tidak memungkinkan si istri menjalankan hal tersebut. Dalam hal ini saya sebut saja konteks berhubungan seksual. Fakta yang ada, kebanyakan perempuan tidak boleh menolak jika sang suami meminta berhubungan seksual meskipun si perempuan dalam keadaan lelah setelah seharian mengurus anak dan rumah. Akankah lebih baik jika kedua belah pihak memiliki cara berkomunikasi tentang apa yang saya suka dan kamu suka, atau yang kita berdua tidak sukai. Lalu mencari kesepakatan sehingga semua akan bahagia dengan kemufakatan tersebut.

Setelah menikah perempuan harus segera hamil dan memiliki anak. Kondisi ini biasanya diperkuat dengan tekanan dari ibu mertua, ibu sendiri, ataupun kerabat lainnya. Padahal kehamilan dan memiliki anak ini bukan persoalan sekedar berhubungan seksual lalu hamil kemudian anak itu lahir semua bahagia. NO, saya ga setuju. Anak itu adalah manusia yang harus diberi kebahagiaan, pendidikan, asupan makanan serta kehidupan yang baik. Saya termasuk orang yang percaya bahwa punya anak harus benar - benar direncanakan dengan matang. Mulai dari kedua calon orangtua menyiapkan finansial (untuk melahirkan, perawatan rumah sakit, serta tabungan awal pendidikan). Kemudian perencanaan lainnya meliputi pemeriksaan kesehatan calon orangtua. Ayah dan ibu yang sehat akan melahirkan bayi yang sehat. Tapi sayangnya situasi itu belum diberlakukan di Indonesia. Sehingga, begitu banyak kematian ibu dan bayi, anak - anak yang terlahir dengan beragam masalah salah satunya tertular HIV.

Perempuan harus tetap di rumah, membesarkan mendidik anak dan mengurus rumah. Berapa banyak perempuan di Indonesia yang memiliki akses informasi selain dari gawai yang digenggamnya sehari - hari. Informasi macam apa yang didapatnya jika hanya harus terus menerus berada di rumah. Semestinya perempuan tetap memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang semua hal yang ada di dunia ini. Mulai dari persoalan kesehatan seksual dan reproduksi hingga ada apa di luar rumah. Kesepakatan - kesepakan bersama suami idealnya tidak hanya persoalan hubungan seksual, tapi juga perempuan boleh bekerja mencari uang, dan mencari informasi serta pendidikan di luar rumah. Bukankah ibu ayah yang cerdas dapat melahirkan anak - anak yang lebih ceradas?

Beban serta keharusan perempuan dalam lingkup rumah tangga inilah yang menyebabkan kerentanan perempuan terhadap HIV meningkat. Sebarapa banyak perempuan yang mampu berkomunikasi dengan pasangan tentang informasi di atas. Yang ada perempuan akan dianggap pembangkang atau cari - cari persoalan aja.





Pertemuan dengan Atiqah hasiholan kemarin, mengajak pikiran saya beterbangan kesana kemari. Mengingat kembali mimpi mimpi tentang Indonesia yang bebas dari HIV. Dimana para perempuan dan laki laki bisa bersama sama membangun keluarga yang sehat dengan komunikasi yang setara. Bahwa kesehatan menjadi salah satu prioritas utama. Semoga cuap cuap saya dan Kiki panjang lebari kemarin bisa menjadi manfaat bagi Mba Atiqah dan teman - teman lainnya yang hadir kemarin. Kemarin kami bercerita tanpa rasa takut, tanpa tangis namun juga memberikan banyak energi yang lebih besar, lebih baik, untuk semua.

Terimakasih Yansen, Livia, Inggrit, dan UNAIDS Indonesia team telah memfasilitasi ngobrol santai kemarin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar