Jumat, 08 Februari 2019

Happy 5th Wedding Anniversary, dear Life

Segala ada di dalam rumah ini merekam setiap kejadian demi kejadian yang pernah terjadi. Saya memang tidak pernah tahu ada apa sebelum saya tiba, tapi yang kutahu saat pertama kali menginjakan kaki di sini I have to clean this house. There’s a lot of empty energy here. Akhirnya rumah ini kami renovasi, bukan renovasi bangunan. Tapi memperbaiki bagian dalam saja. Membersihkan tembok dari jamur jamur dan mengecatnya kembali, memperbaiki pintu, lantai, listrik dan saluran air. Membuat dapur juga kemudian menjadi salah satu prioritasku. Karena selepas lelahnya bekerja dan beraktifitas, dapur selalu menyuguhkan ruang aman untukku membuat makanan. Not just for me tapi untuk malika dan febby. Food is good right?

Its June 2014. The house is now ready for us.

Saya kemudian pindah dari Pamulang, rumah mama papa yang sudah saya tempati selama 23 tahun lamanya. Meninggalkan mereka, seisi rumah dan juga ceritanya. I am leaving for good. Setelah infeksi HIV yang merenggut nyawa suami saya, serta memberikan kami kehidupan baru di th 2009. Saya akhirnya bertemu dengan Febby dan kami menikah pada tahun 2014. Saya memutuskan untuk pindah ke Bandung dan memulai kehidupan baru. Meninggalkan segala masa lalu pada tempatnya.

Rumah ini kemudian menjadi saksi awal kehidupan baru kami. I still have the picture while the renovation begin and almost done. Saya ingat pula bagaimana pelan pelan mengisi rumah ini hingga akhirnya sekarang kami tidak punya tempat untuk meletakan apapun. Lima tahun sudah. Sofa, bantal, karpet, rak buku, meja kerja dan semua hal tentang kehidupan kami bertiga kini menjadi nafas dalam rumah ini.

Sayangnya ini bukan rumah kami sendiri.

Rumah ini merupakan peninggalan kakek dan nenek suami saya. Kini surat rumah ini diatasnamakan sang ibu dan kedua saudaranya. Dahulu suami dirawat oleh kakek dan neneknya sejak dia berusia tiga tahun, dan sejak itu pula dia tidak pernah bisa meninggalkan rumah ini jauh untuk merantau. Too many emotional stories in here I guess. Sehingga setelah sang kakek dan nenek pergi meninggalkan dunia ini, suami lah yang merawat dan mengurusnya seperti rumah sendiri. Dan tentunya setelah kami menikah, dia memutuskan untuk tetap tinggal.

Pengalaman pernikahan terdahulu sejujurnya membuat saya sedikit takut jika harus tinggal satu atap dengan orang lain. Ya, ada adik suami saya beserta keluarga tinggal di bagian depan. But he make sure that everythings gonna be cool, even its not actually. Bentuk rumah ini memanjang, terdapat 3 bagian yakni bagian depan yang terdiri dari toko dan ruang tamu, lalu bagian tengah yang adalah area keluarga jika berkunjung ke rumah dan bagian belakang yang kemudian menjadi rumah kami. We have our own space. Itu yang terpenting.

Lima tahun sudah saya menempati rumah ini. Menyapu dan mengepelnya, menyikat ubin kamar mandinya, menggosok lubang wc nya, dan semua hal dilakukan untuk membuatnya tetap kokoh berdiri dan terpelihara. Rumah ini beserta isinya tahu betul, betapa saya amat sangat menghargai setiap senti di dalamnya. Setiap benda baik peninggalan lama ataupun baru.

Sama seperti memelihara rumah. Kami pun belajar untuk memelihara terus kasih sayang dalam pernikahan ini. Memasuki usia pernikahan kelima cobaan demi cobaan datang. Jika rumah kami yang sedang memulai masa tua nya ini akhirnya plaffon ambruk, dinding berjamur, pagar berkarat. Kami manusia manusia yang menjadi fondasi pernikahan ini pun menua. Saya tahun ini memasuki tahun ke 10 terinfeksi HIV. Suami yang saya doakan selalu sehat ternyata tumbang juga. Serangan stroke ringan menjadi kado yang sangat manis di awal tahun.

Tapi kami tidak menyerah. Saya tidak pernah menyerah terhadap virus HIV. Maka saya bilang pada suami saya, I will not give up on you or the hipertensi. Kami renovasi pola makan besar - besaran no more beef, lamb, shrimp, squid.. less salt and sugar. Dia juga patuh saat saya minta dengan tegas agar berhenti merokok. Its been 3 weeks now. I am proud wife. Setiap harinya, seperti petugas di klinik saya memeriksakan tekanan darahnya pagi, sore dan malam. Saya juga memutuskan untuk kembali rutin memasak. I have to do this, because we need a healthy life after all the things that we have been through.

Mungkin penyakit yang menyerang suami bukanlah ketidaksengajaan, dia memang memiliki persoalan hipertensi bawaan dan kolesterol. Tapi saya percaya, somehow alam semesta memang memberikan saya kesempatan untuk terus menyembuhkan diri dari pasca kepergian Miguel. Ini tahun kedua. Dia sudah lari larian di surge dengan kaki yang lebih kokoh. Dan aktifitas baru mengurus suami sakit, memeriksa ke dokter dan mengingatkannya minum obat membuat saya lupa kalau saya juga sakit secara mental.

Lima tahun pernikahan mengajarkan kami untuk saling mendengarkan satu sama lain. Dan sama halnya seperti rumah ini, kami adalah rumah bagi satu sama lain. Saya dan dia tahu kemana harus melangkah saat lelah dan membutuhkan pelukan. Kami tahu kemana harus berdansa bahagia saat semburat senja menghiasi langit. Dan yang paling penting, saya febby dan Malika masih ada di rumah ini dalam sehat dan penuh syukur.

Happy 5th Anniversary dear Husband & Happy Birthday for you Too!
I made the video for our anniversary. You can click here and enjoy!
Aniway, thank you very much for the love and pray for us. May universe bless ya all with more happiness! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar