Jumat, 03 Januari 2020

The Golden Bracelet | My Spiritual Journey (Part 5)

Pada hari di mana Olva mengabari saya bahwa pesawat kami ke Singapore 30 November mendatang akan delay, saya sangat frustasi. I know I shouldn’t think that way, but I am. Saya yang kala itu sedang lumayan sibuk membereskan pekerjaan organisasi lantas duduk sejenak dan berdoa, “God I really want to meet them. It’s like once in a lifetime moment that I cannot.. that I don’t want to skip. So if You can give me a chance to watch the second show. I will be bless”.

Affirmasi positive kemudian mempertemukan saya dengan rejeki – rejeki yang luar biasa. Sampai suatu hari saya memutuskan untuk membeli tiket kedua. Meski uang sudah berada di tangan, saya merasa meminta izin suami perlu saya lakukan. Even I know, asking for permission isn’t so me at all. The rebel Ayu know how to seek happiness for herself without anyone permission. Tapi kan ya gimana? Heu. Dan dugaan saya bahwa pak Suami tidak memberikan izin membuat kami sempat bertengkar hebat dan saya menangis semalaman. I hate the fact that I don’t listen to myself, no need for ask permission. Lol. Just say it after you buy the ticket! Dan pada akhirnya saya membeli tiket keesokan paginya tanpa memberitahukan suami.

Mungkin banyak yang berfikir, kenapa saya mengabaikan nasihat suami saya. Well, Saya malah berfikir tentang kesenangan – kesenangan yang selalu saya upayakan untuk orang lain selama sepuluh tahun terakhir sejak saya terinfeksi HIV. I always thinking about my daughter happiness, bagaimana menolong orang lain di sekitar saya agar pulih baik secara fisik maupun mental.

Setiap kali bangun dari tidur yang saya pikirkan adalah masak apa hari ini, apa yang saya harus rapihkan, apakah hari ini hujan karena hari ini saya akan mencuci. Damn, I cant stop thinking about other every single day. Tapi kemudian tersadar bahwa saya gak pernah memikirkan diri sendiri. So I decide to buy the tiket.

Di grup WA U2 Indonesia saya kemudian mengetikkan pesan “I think I want to buy ticket for the 2nd show. But I don’t have CC”. Tidak lama Mas Djundi salah satu punggawa di grup U2indo langsung menghubungi saya secara langsung dan menyampaikan bahwa dia punya satu tiket lain yang tidak jadi digunakan oleh kawannya. And I buy it! Sekitar pukul 6 pagi, saya mentransfer uang kepadanya, And I’m glad doing that!



Back than I was remember, seusai menonton show di hari pertama 30 Nov saya mengecek grup WA dan ada informasi penting tentang “The front row access is start the line now”. Saya langsung bergegas menghampiri kumpulan teman – teman U2 indo dan juga fans U2 lainnya yang telah berada di sekitaran Gate 13. Mungkin tidak ada satupun orang yang menyadari antrian panjang tersebut merupakan gerbang menuju barisan depan panggung. And I am thankful for being part of U2indo.

Dalam antrian tersebut ada kurang lebih 300 orang yang akan dicatat nama dan mendapatkan nomor antrian yang dituliskan di tangan mereka. We need to remember the number.. atau ya jangan dihilangkan nomer di tangannya. Karena besok paginya, pukul 08.30 waktu Singapore, kami kembali ke Stadion saat semua penonton U2 lainnya masih terlelap tidur. Tim konser U2 kemudian mengecek kembali barisan manusia yang kemarin sudah mendaftarkan dirinya sebagai front rower dan menukar nomer yang kita punya dengan sebuah gelang berwarna emas. Yang tidak hadir, namanya akan dicoret dari daftar tersebut dan otomatis tereliminasi. Gelang berwarna emas tersebut adalah kunci untuk bisa berada di area depan panggung.

Pukul empat sore, kami harus kembali ke Gate 13 dan standby karena gerbang untuk para front rower ini akan dibuka terlebih dulu. Idk how, but it feels good. Beberapa jam menunggu tersebut saya habiskan dengan bertemu kawan saya yang memang berdomisili di Singapore. Meskipun sedih karena belakangan saya tahu beberapa kawan menghampiri u2 langsung ke hotel tempat mereka menginap. Sempat terfikirkan, tapi well.. I don’t want to regret anymore. Mungkin bertemu langsung dalam momen di luar konser belum menjadi jodoh saya. Setelah berkeliling ke beberapa tempat, pukul empat saya kembali ke stadion dan berkoordinasi dengan teman – teman lainnya.  Setelah membeli kaos dan merchandise, makan, ke toilet dan ritual penting lainnya dilakukan kami menuju gate 13 dan berbaris rapih. No one notice that this is the front row line. Saya juga saat itu belum paham sih. Namun tidak lama kemudian, kembali datang crew yang melakukan scan pada barcode di tiket kami dan memberikan sebuah gelang merah yang dimiliki semua penonton. So now we have 2 bracelet. The red and golden one.

What happen next? – to be continue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar