Selasa, 27 Maret 2018

[Review Buku] Gelang Hitam by Nyi Rika

Judul Buku : Gelang Hitam
Penulis : Rika Setiati 
Penerbit : Nawalapatra
Jumlah halaman : 204 Halaman
Harga buku : Rp 75.000,-
Rate : πŸ‘πŸ‘πŸ‘

"Aku adalah nafsu gentayangan yang terjebak dalam seuntai gelang hitam yang melingkari pergelangan tangan Saras. Ada seutas tali tak kasatmata yang membuatku bisa mengikutinya ke mana pun serta turut merasakan suka dukanya. Menjadi seorang relawan bencana yang meminjamkan telinga untuk cerita - cerita pedih para korban tsunami membuat jiwanya ikut terguncang."

Begitulah sebait paragraf yang tertulis di bagian belakang buku berjudul Gelang Hitam yang baru saja saya tuntaskan beberapa hari lalu. Dan pertama kali membacanya saya langsung penasaran seperti apa cerita yang ada di dalamnya. Sedikit pengantar kenapa saya akhirnya membaca buku ini adalah target menyelesaikan beberapa buku secara perlahan harus terpenuhi. Yup punya target di tahun 2018 ini adalah jangan sampai ada buku yang tidak terbaca padahal sudah dibeli atau pemberian kawan. Nah beberapa buku yang saya miliki rujukannya adalah Mentor dan Editor buku yang sedang saya kerjakan Jia Effendi. Salah satu buku yang di rekomendasikan Jia untuk saya baca adalah berjudul Gelang Hitam yang ditulis oleh Rika Setiati atau Nyi Rika.

Pertama kali membaca buku ini, pembaca langsung dibawa masuk jauh ke kejadian memilukan di tahun 2004 yang menimpa masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah Nangroe Aceh Darussalam dan sekitarnya. Hanifah, seorang perempuan yang turut menjadi korban dalam tsunami tersebut mengalami kejadian aneh yang kemudian membuatnya dapat berseliweran di dunia tanpa terlihat oleh manusia termasuk suami dan anaknya yang masih hidup. Lain dengan Hanifah yang naas menjadi korban kejadian alam tersebut, Saras adalah seorang mojang Bandung yang adalah seorang relawan bencana yang berangkat ke Aceh untuk membantu para korban. Ruh gentayangan Hanifah secara tidak sengaja terkoneksi ke dalam tubuh Saras dan membuatnya bisa merasakan apapun yang Saras rasakan dan alami. Kejadian demi kejadian terjadi dalam kehidupan Saras semenjak menjadi relawan di Aceh, yang tentunya sering sekali dirasakan oleh para relawan bencana, konselor kesehatan, konselor kekerasan yang selalu menangangi kejadian pasca trauma dan berusaha membantu menyembuhkan kondisi orang lain tetapi lupa bahwa dirinya juga kemudian mendapat dampak yang luar biasa.

Bagian yang paling saya suka dalam buku ini adalah adanya penyadaran bahwa setiap orang yang berada di dalam lingkaran seperti Saras harus mendapatkan bantuan psikologis secara rutin untuk healing sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Yang cukup berbahaya adalah jika dalam sistem sebuah organisasi atau LSM yang melakukan kerja sosial atau bahkan anggota keluarga tidak peka terhadap sosok seperti Saras yang sangat rentan mendapat trauma yang bernama Secondary Trauma Stress Disorder (STSD). Dan persoalan seperti ini harus segera ditangani agar dalam kehidupan selanjutnya, trauma tersebut bisa hilang dan tidak menganggu aspek sosial lainnya termasuk kehidupan pribadi orang tersebut. 

Dalam buku ini saya gak begitu suka tokoh Saras, hehehe.. maapin yak padahal tokoh utama. karena saya tipikal orang yang tidak suka mengecewakan diri sendiri maka saya sering merasa kecewa saat membaca Saras cenderung menomor duakan dirinya dalam urusan - urusan pribadi. Padahal dalam lingkaran relawan dia sudah lebih sering memprioritaskan orang lain di atas kepentingan dirinya. Kalo tokoh yang saya suka adalah Rengganis, dia adalah salah seorang yang membantu Saras memulihkan diri dari STSD tersebut. I wish i could met someone like this woman, I think i need some advice and shoulder to release my trauma too

Meski kisah percintaan dalam buku ini bikin gemes, karena pergerakannya sangat lambat dan kurang greget karena saya tipikal yang sangat agresif kali ya tapi saya suka dengan beberapa aksen manis yang diberikan oleh Dewa. Siapakah Dewa? Eeaaa.. saya sih membayangkan sosok Dewa itu seperti Gerard Buttler?. Kalian harus baca bukunya sih kalau menurut saya. Karena di buku ini kita bisa belajar bagaimana pentingnya menolong diri sendiri dan memberikan prioritas lebih setelah serangkaian hal luar biasa yang kita berikan kepada orang lain. Membaca buku ini seperti berkaca untuk diri sendiri, bahwa saya juga harus memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk bahagia meskipun hasrat untuk memberi dan selalu ada untuk orang lain sangatlah besar. 

8 komentar:

  1. aku penasaran sama ceritanya Teh, bakalan masuk daftar buku yang harus aku baca juga ini mah hehe

    BalasHapus
  2. Sukak kalo baca-baca review buku, jadi pengen baca. Tapi pas udah beli malah nggak dibaca. *tutup muka*

    BalasHapus
  3. aku baru aja mau baca ini nih teh

    BalasHapus
  4. Wah bagus ya teh pesan yang tersiratnya. Karena memang tak boleh mengabaikan kebahagiaan pribadi.

    BalasHapus
  5. Penasaran pengen baca bukunya, tar beli ah di tokbuk

    BalasHapus
  6. Menarik banget sinopsisnya, aku kalo baca juga bakalan gemes sama Saras. Tipikal cewek tokoh telenovela yang rela mengorbankan kebahagiaan sendiri buat org lain #halah

    Aku jadi bisa menyimpulkan kalau me time untuk membahagiakan diri sendiri itu penting banget jaman sekarang yah :')

    BalasHapus
  7. Kadang kita suka lupa gitu yaa...sama diri sendiri.
    Padahal diri sendiri juga berhak untuk bahagia.
    Atau mungkin letak bahagianya Saras adalah dengan menjadi relawan dan menolong orang lain, teh?

    BalasHapus
  8. Premis yang ditawarkan buku ini menarik

    BalasHapus