Senin, 06 Agustus 2012

Jakarta

Selalu banyak simpanan kata, dan ungkapan untuk menggambarkan sebuah Kota yang bernama Jakarta. Yang dulu sempat bernama Batavia atau Jayakarta. Saya suka sejarah, namun tidak pandai mengingat sejarah.

Setiap pagi, dari provinsi Banten.. Tepatnya kota Tangerang Selatan. Saya bergegas memulai perjalanan kehidupan saya menuju Ibu Kota. Ibu daripada Negara Indonesia.

Tempat saya lahir, besar, bergaul dan mencari nafkah. Kota yang sangat terkenal dengan kemacetan dan padatnya penduduk. Kota yang terlihat sangat penuh dengan kendaraan di pagi hari serta seliweran orang. Hampir mirip new york. Kota yang sangat sibuk.

Jakarta dengan segala problematika-nya. Mulai dari Banjir yang melanda beberapa titil karena katanya dapat kiriman dari Kota Bogor. Lalu asap kendaraan yang berkumpul, berkoalisi menjadi polusi yang bahkan bisa menjadi bedak dari wajah jakarta.

Dia juga sangat identik dengan sampah. Tidak di jantung kota memang. Lebih tepatnya di pinggiran2 kota yang entah siapa membangunnya. Pinggiran Jakarta yang sangat tidak indah untuk dilihat. Di bantaran sungai dan kali atau di pinggir pinggir rel kereta api dan di bawah kolong jembatan.

Ya, di tempat tempat itulah ada manusia Jakarta yang hidup. Jauh dari kemewahan. Salah satu ciri khas Jakarta yang sangat dikenal akrab. Manusia yang bisa bertahan hidup di samping tumpukan sampah, atau mengguyur diri dengan air sungai yang berbau menusuk. Yang jauh dari kata sehat. Yang tidak ideal disebut kehidupan.








Bagaimana pemerintah kota Jakarta melihat ini? Siapa? Mana saya tahu. Saya bukan warga Jakarta. Kartu tanda penduduk saya menunjukkan bahwa saya adalah penduduk Tangerang. Hanya kebetulan saja mencari nafkah di Jakarta.

Saya ga lihat ada kerja nyata pemerintah untuk memperbaiki hal hal yang saya sebutkan di atas. Saya ga tau sih gimana caranya? Berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki sistemnya. Tapi saya gerah. Saya prihatin.

5 jam perjalanan pulang dan pergi saya menuju kantor. Dan saya semakin akrab dengan situasinya. Asapnya. Warga-nya. Kendaraannya. Dan segala ke-ajaibannya.

Tapi buat saya Jakarta juga penuh makna.. Saya punya banyak cerita baik juga tentang Jakarta. Tentang keramaian malam yang menemani perjalanan pulang saya. Tentang budaya, musik, tari dan sejarah yang mencerdaskan pikiran saya. Tentang lezatnya jajanan pasar serta jajaran kuliner yang bisa dijadikan wisata. Tentang tempat2 nongkrong, penuh dengan musik up beat dan barang2 berbagai jenis berbagai harga yang bisa saya dapatkan.

Hey Jakarta!

*pict by Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar