Sabtu, 16 Juni 2018

Perubahan Tradisi Ramadan dan Hari Raya

Sudah waktunya menghilangkan kemeriahan dalam hari raya. Bukan berarti tidak bersyukur, namun buat apa berlapar-lapar puasa, namun semua hawa nafsu yang dilatih kembali menjadi liar saat bulan berpuasa itu berakhir. Tahun ini menjadi salah satu tahun terbaik saya untuk belajar kembali makna keikhlasan. Dan biasanya, puasa menjadi momentum bagi setiap orang untuk melatih dirinya agar menjadi pribadi yang lebih dapat mengontrol hawa nafsu. Tapi kali ini rasanya benar - benar berbeda.

Berbeda karena saya dengan keluarga kecil saya pada akhirnya dapat perlahan - lahan mempraktekan makna puasa. Setelah saya ingat - ingat semua ritual hari raya yang diterapkan ibu saya sejak kecil, malah perlahan saya tinggalkan. Dan kemudian kami memilih jalan sendiri. Kebiasaan apa sajakah itu? Ini dimulai dari menu makan sahur dan berbuka puasa, shalat teraweh dan tadarusan, berzakat dan bersedekah, hingga persiapan hari raya seperti baju baru, tradisi mudik dan makanan hidangan hari raya. oiya, sebelum diterusin bacanya.. harap diingat cerita ini merupakan opini pribadi saya tanpa bermaksud untuk menyinggung pihak manapun ataupun menjadi upaya untuk riya atau menyombongkan diri. Enjoy aja yak, jangan serius - serius.

Minggu, 10 Juni 2018

Atiqah Hasiholan dan Obrolan Perempuan dalam Lingkar HIV

Kemarin saya bertemu dengan Atiqah Hasiholan. Public figure yang wara wiri di layar televisi saya. Sosoknya lebih cantik dari apa yang selama ini saya lihat di televisi. Ditambah lagi dia datang bersama putrinya Salma, rasanya saya semakin kesengsem memandanginya. Such a perfect wo
man. Dalam lesempatan 3 jam yang sangat berharga kemarin, saya dan Kiki teman saya yang juga sama - sama di satu organisasi IPPI diminta untuk membantu Atiqah mendapatkan pemahaman tentang HIV, perempuan dan anak.

Sudah tentu kami senang sekali mendapat kesempatan berharga ini. Atiqah sangat membuka dirinya untuk menerima segala macam informasi dan cerita dari pengalaman kami berdua. Selain itu dia juga tidak ragu untuk bertanya atau memberikan pendapat dari apa yang kami utarakan.

Sepanjang ngobrol saya berandai - andai, jika ternyata ada lebih banyak seniman, aktor, publik figure ataupun orang - orang di pemerintahan yang mau membuka diri seperti Atiqah Hasiholan. Membuka dirinya untuk mendapatkan pemahaman - pemahaman baru yang mungkin selama ini tabu untuk diketahui. Atau terlalu malas untuk mencari informasi tersebut, dengan alasan thats not my problem.

Sabtu, 09 Juni 2018

Kembali ke Rumah

Hari ini saya tiba di rumah ibu, tempat saya melakukan ribuan kesalahan. Tapi saya tidak pernah takut untuk kembali ke tempat ini. Ya, mau bagaimana. Ini kan rumah ibu saya, hehehe. Kepulangan saya kali ini untuk mengantar anak saya, Malika yang hendak menghabiskan waktu liburannya di rumah neneknya hingga hari raya idul fitri tiba. Saya akan kembali lagi ke Bandung setelah beberapa urusan di sini beres.

Rumah ini selalu mengingatkan saya pada banyak hal yang jika saya ingat kembali akan menimbulkan begitu banyak perasaan. Mulai dari rasa malu, sedih, kesal, marah hingga haru. Tapi seperti yang sering saya sebutkan di banyak tulisan saya sebelumnya. I never regret anything that happen to my life. Yang sudah terjadi kemudian menjadi sejarah paling berharga dalam kehidupan saya.

Minggu, 15 April 2018

Berbaur di Masyarakat Sebagai Orang Yang Terinfeksi HIV

sumber : google.com
Semenjak mengemban gelar ODHA sembilan tahun yang lalu, saya langsung menutup diri. Rasanya enggan untuk bergaul dengan teman – teman. Bukan karena mereka menolak atau membenci saya, tidak pernah ada statement apapun keluar dari mulut mereka. Tapi ketakutan saya sungguh luar biasa. Saya takut mendapat penolakan. Sehingga bentuk antisipasinya adalah menjauh dari mereka. Soal menjaga jarak dengan pertemanan lama ini semakin kuat setelah saya dipecat dari sebuah sekolah music tempat saya pernah bekerja sebagai seorang administrator. Pemecatan tersebut murni karena saya terinfeksi HIV dan dianggap membuat tempat kerja menjadi lingkungan yang tidak nyaman.

Meskipun dipecat, alhamdulilah saya masih punya beberapa teman yang sejak awal suami saya meninggal, mereka sudah mengetahui soal HIV ini. Seperti Nanda, Angga, dan Raski. Mungkin mereka adalah tiga orang teman pertama yang bertahan sampai hari ini setelah tahu. Selebihnya, ada yang menjaga jarak, ada yang langsung menghilang tidak lagi menghubungi, ada juga yang masih suka berbasa – basi demi terlihat tidak apa – apa. Dan saya baik – baik saja dengan hal itu. Semua orang punya pilihan mau berteman dengan siapa, apalagi jika tidak mau berteman dengan saya karena terinfeksi HIV.

Selasa, 27 Maret 2018

[Review Buku] Gelang Hitam by Nyi Rika

Judul Buku : Gelang Hitam
Penulis : Rika Setiati 
Penerbit : Nawalapatra
Jumlah halaman : 204 Halaman
Harga buku : Rp 75.000,-
Rate : 👍👍👍

"Aku adalah nafsu gentayangan yang terjebak dalam seuntai gelang hitam yang melingkari pergelangan tangan Saras. Ada seutas tali tak kasatmata yang membuatku bisa mengikutinya ke mana pun serta turut merasakan suka dukanya. Menjadi seorang relawan bencana yang meminjamkan telinga untuk cerita - cerita pedih para korban tsunami membuat jiwanya ikut terguncang."

Begitulah sebait paragraf yang tertulis di bagian belakang buku berjudul Gelang Hitam yang baru saja saya tuntaskan beberapa hari lalu. Dan pertama kali membacanya saya langsung penasaran seperti apa cerita yang ada di dalamnya. Sedikit pengantar kenapa saya akhirnya membaca buku ini adalah target menyelesaikan beberapa buku secara perlahan harus terpenuhi. Yup punya target di tahun 2018 ini adalah jangan sampai ada buku yang tidak terbaca padahal sudah dibeli atau pemberian kawan. Nah beberapa buku yang saya miliki rujukannya adalah Mentor dan Editor buku yang sedang saya kerjakan Jia Effendi. Salah satu buku yang di rekomendasikan Jia untuk saya baca adalah berjudul Gelang Hitam yang ditulis oleh Rika Setiati atau Nyi Rika.