Minggu, 15 April 2018

Berbaur di Masyarakat Sebagai Orang Yang Terinfeksi HIV

sumber : google.com
Semenjak mengemban gelar ODHA sembilan tahun yang lalu, saya langsung menutup diri. Rasanya enggan untuk bergaul dengan teman – teman. Bukan karena mereka menolak atau membenci saya, tidak pernah ada statement apapun keluar dari mulut mereka. Tapi ketakutan saya sungguh luar biasa. Saya takut mendapat penolakan. Sehingga bentuk antisipasinya adalah menjauh dari mereka. Soal menjaga jarak dengan pertemanan lama ini semakin kuat setelah saya dipecat dari sebuah sekolah music tempat saya pernah bekerja sebagai seorang administrator. Pemecatan tersebut murni karena saya terinfeksi HIV dan dianggap membuat tempat kerja menjadi lingkungan yang tidak nyaman.

Meskipun dipecat, alhamdulilah saya masih punya beberapa teman yang sejak awal suami saya meninggal, mereka sudah mengetahui soal HIV ini. Seperti Nanda, Angga, dan Raski. Mungkin mereka adalah tiga orang teman pertama yang bertahan sampai hari ini setelah tahu. Selebihnya, ada yang menjaga jarak, ada yang langsung menghilang tidak lagi menghubungi, ada juga yang masih suka berbasa – basi demi terlihat tidak apa – apa. Dan saya baik – baik saja dengan hal itu. Semua orang punya pilihan mau berteman dengan siapa, apalagi jika tidak mau berteman dengan saya karena terinfeksi HIV.

Selasa, 27 Maret 2018

[Review Buku] Gelang Hitam by Nyi Rika

Judul Buku : Gelang Hitam
Penulis : Rika Setiati 
Penerbit : Nawalapatra
Jumlah halaman : 204 Halaman
Harga buku : Rp 75.000,-
Rate : 👍👍👍

"Aku adalah nafsu gentayangan yang terjebak dalam seuntai gelang hitam yang melingkari pergelangan tangan Saras. Ada seutas tali tak kasatmata yang membuatku bisa mengikutinya ke mana pun serta turut merasakan suka dukanya. Menjadi seorang relawan bencana yang meminjamkan telinga untuk cerita - cerita pedih para korban tsunami membuat jiwanya ikut terguncang."

Begitulah sebait paragraf yang tertulis di bagian belakang buku berjudul Gelang Hitam yang baru saja saya tuntaskan beberapa hari lalu. Dan pertama kali membacanya saya langsung penasaran seperti apa cerita yang ada di dalamnya. Sedikit pengantar kenapa saya akhirnya membaca buku ini adalah target menyelesaikan beberapa buku secara perlahan harus terpenuhi. Yup punya target di tahun 2018 ini adalah jangan sampai ada buku yang tidak terbaca padahal sudah dibeli atau pemberian kawan. Nah beberapa buku yang saya miliki rujukannya adalah Mentor dan Editor buku yang sedang saya kerjakan Jia Effendi. Salah satu buku yang di rekomendasikan Jia untuk saya baca adalah berjudul Gelang Hitam yang ditulis oleh Rika Setiati atau Nyi Rika.

Kamis, 15 Maret 2018

Bagaimana Orang Melihat Saya Setelah Terinfeksi HIV

Beberapa hari ini saya mengulang - ulang terus lagu This Is me yang merupakan sondtrack dari film The Greatest Showman yang saya tonton beberapa saat lalu. Bagi saya lagu ini memiliki kekuatan yang luar biasa, baik lirik dan aransemen musiknya. Selain karena memang film The Greatest Showman memiliki makna yang luar biasa dalam (saya belum sempet nih nge-review filmnya, soon ya!). Lagu ini kemudian membuat saya melakukan kilas balik pada hidup saya sembilan tahun terakhir dan bertanya-tanya bagaimana orang melihat saya setelah terinfeksi HIV.

Yup tentunya tidak pernah sama lagi seperti dahulu. Jika dulu masa kecil dan masa remaja saya adalah masa yang sangat biasa-biasa saja, maka masa setelah saya dewasa dan memiliki hidup dengan HIV sesungguhnya menjadi lebih  berwarna dan memiliki begitu banyak tantangan. Lalu saya berfikir, rasanya penting untuk membagikan ini kepada banyak orang. Maka jadilah pagi ini saya berefleksi tentang sembilan tahun perjalanan hidup dengan HIV. Agar mudah diingat maka saya akan membuat beberapa poin supaya mudah dibaca juga ya.

Senin, 12 Maret 2018

Berdamai dengan Diskriminasi HIV di Masa Lalu

Sembilan tahun lalu suami saya meninggal karena infeksi tubuh karena virus HIV yang sudah terlambat kami tangani. Beberapa bulan sesudahaa kepergiannya saya menjadi kosong dan tidak tahu harus melakukan apa. Infeksi HIV yang juga kemudian ada dalam tubuh saya ini membuat saya benar - benar bingung. Kebingungan ini tentunya berhubungan dengan kondisi saya sepeninggal suami, saya kembali tinggal bersama kedua orangtua saya dan saya tidak memiliki pekerjaan. Awalnya saya masih saja bergantung pada mama dan papa pada banyak hal, sampai akhirnya saya merasa malu dan berfikir saya harus bekerja. Tapi kemampuan apa yang saya punya? tidak ada. Kebetulan saya memiliki sahabat yang rumahnya tidak jauh dari rumah ibu saya tinggal. Dia adalah kakak kelas saya yang adiknya adalah teman seangkatan saya.

Angga banyak membantu pemulihan saya secara psikologis, He knows me so well sampai entah bagaimana tanpa saya minta dia menawarkan sebuah pekerjaan di tempatnya bekerja. Sebuah sekolah musik yang kebetulan membutuhkan admin. Tugasnya tidak berat, tapi juga tidak bisa dibilang mudah. Saya adalah garda depan sekolah musik di cabang Pamulang itu. Saya menerima tamu, mempromosikan sekolah ini, harus hapal product knowledge, mengurus administrasi iuran bulanan siswa, mengurus daftar kehadiran guru dan murid, dan banyak lagi tugas saya yang setelah saya tuliskan ternyata banyak ya Hahaha. And yes its not easy, but I get used to it! Saya mulai bekerja tidak lama setelah suami saya meninggal. I believe I'm a fast learner.

Rabu, 21 Februari 2018

13 Reasons Why Hannah Baker Could be One of Us

Source : Google.com
Film 13 Reasons why ini saya dapat dari seorang kawan pada saat kegiatan rutin setiap kamis saya CS Writers Club. Dan semenjak itu saya terus menerus tidak berhenti memikirkan film ini. Sayangnya saat itu saya belum membayar biaya berlangganan netflix bulanan saya, sehingga hasrat untuk menonton harus tertunda sejenak. Sampai akhirnya waktu dan kesempatan itu tiba, saya ga menyia-nyiakannya dan langsung melahap habis serial tersebut sampai tidak bisa berkata - kata dan butuh waktu cukup lama untuk menuliskan ulasannya.

Untuk yang kemudian ingin menonton 13 Reasons Why, ada hal yang wajib kalian ketahui bahwa film ini mengandung banyak sekali adegan kekerasan baik secara fisik, seksual, psikologis. Tokoh utama dalam film ini melakukan bunuh diri karena mendapat semua jenis kekerasan tersebut. Jika kalian dalam kondisi depresi berat atau memiliki potensi untuk melakukan bunuh diri, saya tidak menyarankan untuk menonton film ini tanpa didampingi oleh orang yang kompeten untuk membantu persoalan anda. Tapi Film ini juga penting untuk di tonton, karena akan sangat membuka mata kita semua yang menontonnya tentang bahaya potensi kekerasan dan dampak bullying. Semoga disclaimer di awal ini cukup membantu ya