Kamis, 10 Januari 2019

Catatan di Ruang Kreatif Part 2

Jika dalam tiga ratus enam puluh lima hari lamanya kita selalu diberi cobaan demi cobaan, maka paling tidak ada secuil rasa syukur yang hadir di tengah tengah masa masa paling sulit tersebut. Hal itu yang kemudian saya rasakan setelah membuat tulisan uneg - uneg Catatan di Ruang Kreatif Bandung. Lebih dari 3.000 orang yang membaca tulisan tersebut setelah saya posting di tanggal dua, dan makin banyak spekulasi bermunculan tentang nama tempat atau bahkan menduga - duga siapa orang orang yang berada di belakangnya. Atau mungkin banyak juga yang mempertanyakan saya. Ah kalau saya mah bukan siapa - siapa. You can easily track who am I by read all my blog and follow my social media account. Tapi percayalah, tulisan tulisan saya ga pernah bermuatan buruk dan bertujuan untuk menjatuhkan pihak pihak tertentu. Karena kalau bicara jatuh menjatuhkan, tiga puluh empat orang yang setahun kemarin membangun ruang tersebut sudah berhasil dijatuhkan dan dibersihkan.

Waduh paragraf pertama nampaknya saya cukup emosi hahaha. Kalemin dulu ahh hahaha, padahal saya lebih mau membahas greatful things yang saya dapat selama saya berada di ruang kreatif tersebut. Supaya seimbang memberikan perspektif bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah sama sekali dengan ruang nya.

Menikmati Sensasi Art di De Braga by Artotel


Dulu waktu masih berKTP Tangerang Selatan, saya selalu picky setiap kali mau ke Bandung. Saya pengen nginep di tempat yang begini dan begitu. Dan mindset bahwa kalau ke Bandung harus menginap di daerah atas yang dingin dan sejuk ternyata salah besar. Karena ternyata saya baru sadar setelah tinggal di Bandung, bagian paling menyenangkan dari kota ini adalah sejarah kota yang sangat kaya. Bahwa Bandung adalah salah satu kota yang menjadi destinasi plesirannya bangsa Belanda saat mereka menjajah kita dahulu. Dan pusat kota Bandung merupakan bagian paling penting dimana di sana terdapat Kantor pemerintah (Balaikota), pusat pertemuan masyarakat (alun – alun), pusat ekonomi (Bank Indonesia) dan tempat ibadah (Mesjid di alun alun dan gereja katedral).

Semua pusat heritage kota nyatanya terletak di tengah – tengah dan Jl Braga menjadi salah satu jalan utama yang menjadi jantung yang senantiasa berdenyut menghidupkan kemeriahan kota. And I love the fact that I live near that place now. Braga selalu memiliki daya magis yang luar biasa setiap saya melaluinya.

Selasa, 08 Januari 2019

Keluarga Cemara dan Patriarki di Indonesia


Kaki keseleo adalah oleh oleh yang saya dapat seusai menonton film Keluarga Cemara bersama teman – teman CS Writers club. Saking semangatnya mendapat kesempatan nobar ini, saya sampai niat untuk membawa tripod untuk berfoto. Saya tidak ingin ada yang tertinggal dan tidak ada dalam frame. Seusai berfoto di dalam bioskop yang mana ternyata seisi studio sudah tinggal kami, maka semua bergegas pergi dan saya yang terburu – buru, membawa tripod sambil melihat hasil foto terjatuh di tangga turun. Beberapa detik saya sempat tidak bisa bergerak karena shock dan kesakitan. Lucunya ini persis dengan kondisi Abah yang juga terjatuh saat sedang bekerja di proyek. Jatuhnya abah lebih sadis, meskipun saya gak yakin apakah kaki abah patah atau hanya keseleo seperti saya.

Rasanya energy dan chemistry film ini begitu meresap sampai sampai adegan jatuh saya sandingkan. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh teman – teman termasuk saya saat di beberapa adegan kami naluriah meneteskan air mata atau tertawa akibat tingkah polah Ara yang sangat polos. Film keluarga Cemara layak direkomendasikan untuk di tonton bersama keluarga.

Kamis, 03 Januari 2019

I'm Gratefull still Alive!

Sepuluh tahun yang silam saya dihadapkan pada situasi yang tidak pernah saya duga. Terinfeksi HIV, suami meninggal, menjadi orangtua tunggal, mencari nafkah dan harus belajar menghadapi stigma dan diksriminasi. Sebuah kompilasi hidup yang sungguh menarik ya. Kalau ada yang tahu permen nano – nano, mungkin serupa itu macam rasanya. Bahkan sepertinya ada rasa pahit getir yang ga bisa saya ungkapkan sepanjang tahun 2009.

Hari ini sepuluh tahun sudah berlalu. Perjalanan panjang itu masih terus berlanjut. Saya masih diberi kesempatan oleh Gusti Allah Sang Maha Pencipta untuk bernafas lagi, meski ritme nya terus berubah. Mulai dari nafas santai penuh kenikmatan, nafas buru – buru karena dipaksa berlari mengejar sesuatu, nafas tercekat karena kebanyakan gak siap dengan setiap kejutan, sampai susah nafas karena sometimes life is hard, really fuckin hard. But this is it, 10 tahun terinfeksi HIV dan saya masih hidup.

Rabu, 02 Januari 2019

Catatan di Ruang Kreatif Bandung

Memasuki gerbang tahun 2019 saya dihadapkan pada situasi yang cukup menguras hati. Tadinya berencana untuk dituliskan di akhir tahun, tapi kok ya gak sanggup. Menunggu tenang terlebih dulu, menunggu reda, agar nantinya (semoga) isi dari tulisan ini tidak meledak – ledak. Tidak seperti air laut yang meluap kemudian merusak. Sebagai keterangan di awal, tulisan ini akan khusus berkisah tentang perjalanan saya di dalam sebuah ruang kreatif di kota Bandung. Yang mungkin untuk sebagian orang telah memahaminya, tapi demi kebaikan lebih banyak saya tidak akan menyebutkan beberapa nama.

Semuanya dimulai dari sebuah kesempatan yang diberikan oleh pemimpin terdahulu di kota ini kepada saya dan suami untuk ‘membantu’ mengembangkan konsep dan ide agar ruang kreatif ini menjadi ramai dan dapat digunakan sebagaimana mestinya. Saya kemudian mengelola social media milik ruang kreatif ini dan suami saya sebutlah menjadi coordinator kegiatan. Rasanya, bagi saya pribadi yang jauh dari dunia kreatif (bukan saya gak kreatif ya) merupakan sebuah kehormatan besar bisa mengisi ruang kosong. Bukan hanya mengisi, tapi diberi kesempatan untuk berinovasi.