Selasa, 23 Juli 2019

Sepuluh Tahun Menyembuhkan Diri

“Saya perempuan baik – baik, tapi kenapa Tuhan masih kasih saya HIV”

Beberapa minggu ke belakang, kalimat diatas kerap berseliweran di kotak pesan instagram saya. Dari begitu banyak curhatan dan konsultasi terkait HIV, ada beberapa orang yang memilih untuk diam pada kemarahannya hingga menahun. It hurt me at the beginning, saya sempat mempertanyakan kenapa sih anda semarah ini? Sampai saya ingat, saya pun pernah melalui fase yang sama.

Kalau saya bisa ibaratkan, terinfeksi HIV seperti mendengar kabar anggota keluarga meninggal. We feel like we already die. Duka nya sangat mendalam sehingga membuat kita kehilangan akal sehat atau bahkan diri sendiri. Yes, we lost ourself in that situation.

Banyak sekali ODHA yang bertahun – tahun marah pada keluarga, pasangan dan bahkan Tuhan karena mendapatkan situasi HIV ini. Tentu kita semua tidak mengharapkan ini terjadi pada diri kita. Jadi dalam tulisan ini saya mau mengajak teman – teman yang terinfeksi HIV atau anggota keluarga yang memiliki kerabat yang terinfeksi HIV untuk pulih secara bertahap.

Rabu, 17 Juli 2019

Seks Edu, Berikan Sekarang atau Menyesal?

Ingatan saya siang tadi melesat kuat saat melihat adegan dalam film dua garis biru, tentunya adegan tersebut tidak secara gamblang dipertontonkan di film ini. 

Potongan ingatan tentang bagaimana saya sebagai anak SMA yang dilanda kasmaran akhirnya memutuskan untuk membiarkan penis kekasih yang telah tegang memasuki liang vagina. Saya membiarkan dengan sadar, atas nama cinta sebagai sepasang muda mudi yang dilanda asmara. Bedanya, saya tidak sampai hamil. Sang Kekasih rasanya sudah lebih paham tentang bagaimana agar tidak membuat sang pacarnya ini hamil. 

Yup, paragraph diatas pasti kalian pikir jorok dan ga pantas.. tapi tahukah kalian bahwa ini benar – benar terjadi dalam kehidupan saya. Dan demi menceritakan sebuah fakta serta membagikan sebuah pelajaran bermakna, gak perlu lah saya sensor kata penis dan vagina karena memang itulah namanya.

Dua Garis Biru habis – habisan menguras emosi dan air mata saya. Membuat saya marah, sedih, malu, menyesal, berfikir dan belajar. Sebagai seorang ibu dan seorang anak perempuan yang dulunya sering dibilang nakal oleh orang tua sendiri. Film ini menggambarkan kenyataan bahwa Indonesia darurat krisis edukasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Kebanyakan dari kita menolak untuk membicarakannya karena alasan takut kalau anak – anak kita malah akan berperilaku macam – macam atau menjadi tidak bertanggung jawab.

Rabu, 29 Mei 2019

The Feminist Princess Jasmine in Aladdin Movie

Siapa yang tidak tergugah hatinya setelah menonton Film Aladdin Remake? Pasti banyak sekali penonton yang seusia saya atau lebih yang menjawab IYA! Eh itu jika kalian sudah nonton yaaa. Tahun 1992 saat film ini pertama kali ditayangkan dalam versi kartun, saya ingat betul menontonnya dengan ibu di bioskop Pamulang yang kini telah rata dengan tanah. Namun setelah menontonnya kembali dalam versi hidup kemarin dengan Malika, yang tentunya dengan tokoh dan karakter yang kuat, hati saya membuncah. Setiap adegannya membuat saya menyeringai lebar, apalagi saat Aladdin atau Ginnie mulai bernyanyi.

Well, buat yang sama sekali belum menonton film ini berkisah tentang sebuah negeri Agrabah yang dipimpin oleh seorang sultan yang memiliki seorang putri. Sultan sudah semakin tua dan merasa bahwa putrinya harus segera menikah dengan pangeran yang mana secara otomatis dia akan menggantikannya menjadi sultan. Putri Jasmine sebagai sosok yang mandiri merasa bahwa solusi menikah bukanlah ide yang tepat, maka dia kerap menolak lamaran yang datang dari banyak pangeran yang datang ke Agrabah.