Rabu, 29 Mei 2019

The Feminist Princess Jasmine in Aladdin Movie

Siapa yang tidak tergugah hatinya setelah menonton Film Aladdin Remake? Pasti banyak sekali penonton yang seusia saya atau lebih yang menjawab IYA! Eh itu jika kalian sudah nonton yaaa. Tahun 1992 saat film ini pertama kali ditayangkan dalam versi kartun, saya ingat betul menontonnya dengan ibu di bioskop Pamulang yang kini telah rata dengan tanah. Namun setelah menontonnya kembali dalam versi hidup kemarin dengan Malika, yang tentunya dengan tokoh dan karakter yang kuat, hati saya membuncah. Setiap adegannya membuat saya menyeringai lebar, apalagi saat Aladdin atau Ginnie mulai bernyanyi.

Well, buat yang sama sekali belum menonton film ini berkisah tentang sebuah negeri Agrabah yang dipimpin oleh seorang sultan yang memiliki seorang putri. Sultan sudah semakin tua dan merasa bahwa putrinya harus segera menikah dengan pangeran yang mana secara otomatis dia akan menggantikannya menjadi sultan. Putri Jasmine sebagai sosok yang mandiri merasa bahwa solusi menikah bukanlah ide yang tepat, maka dia kerap menolak lamaran yang datang dari banyak pangeran yang datang ke Agrabah.

Selasa, 22 Januari 2019

Its Okay To Be The Lonely Clown

Dalam sebuah kesempatan berharga, saya dan teman - teman Kokomang diundang oleh Sundea untuk dapat menghadiri pertunjukan musikal bertajuk The Lonely Clown yang diselenggarakan oleh Bandung Philarmonic, The Red Nose foundation yang diadakan di Bandung Independent School. Karena lokasinya cukup jauh dan di daerah rawan kemacetan, maka saya, Yessy dan Malika berangkat lebih awal. Kekhawatiran saya soal acara yang diadakan sore akan selalu terhalang hujan deras terbukti, it is rain. Tapi hujan, jauh dan macet gak bikin kami patah arang. Kami tiba di BIS tepat waktu dan bertemu dengan teman lainnya yang sudah janjian di sana juga, ada Kiki, Andrea beserta mamanya.

Pertunjukan ini dibuka dengan nada nada yang mengalun dari Bandung Philarmonic. Its very nice to hear a beautiful sound after such a long time. Lalu kemudian, munculah tokoh - tokoh dalam pertunjukan ini, ada Clubithia, Balkie, Ring a ding dan red notes. Keempatnya adalah badut badut yang dibekali dengan alat alat yang menjadi kemampuan dan bakatnya masing - masing. Sayangnya red notes tidak sepakat bahwa benda yang dimilikinya mampu memberikannya kemampuan atau bakat tertentu. Hanya sebuah stick panjang, tak ada guna. Selain itu, red notes adalah satu - satunya badut yang tidak berhidung merah. Hidungnya biru. Satu - satunya warna merah yang menempel di tubuhnya adalah lambang nada di bagian dada. He is a different clown

Kamis, 10 Januari 2019

Catatan di Ruang Kreatif Part 2

Jika dalam tiga ratus enam puluh lima hari lamanya kita selalu diberi cobaan demi cobaan, maka paling tidak ada secuil rasa syukur yang hadir di tengah tengah masa masa paling sulit tersebut. Hal itu yang kemudian saya rasakan setelah membuat tulisan uneg - uneg Catatan di Ruang Kreatif Bandung. Lebih dari 3.000 orang yang membaca tulisan tersebut setelah saya posting di tanggal dua, dan makin banyak spekulasi bermunculan tentang nama tempat atau bahkan menduga - duga siapa orang orang yang berada di belakangnya. Atau mungkin banyak juga yang mempertanyakan saya. Ah kalau saya mah bukan siapa - siapa. You can easily track who am I by read all my blog and follow my social media account. Tapi percayalah, tulisan tulisan saya ga pernah bermuatan buruk dan bertujuan untuk menjatuhkan pihak pihak tertentu. Karena kalau bicara jatuh menjatuhkan, tiga puluh empat orang yang setahun kemarin membangun ruang tersebut sudah berhasil dijatuhkan dan dibersihkan.

Waduh paragraf pertama nampaknya saya cukup emosi hahaha. Kalemin dulu ahh hahaha, padahal saya lebih mau membahas greatful things yang saya dapat selama saya berada di ruang kreatif tersebut. Supaya seimbang memberikan perspektif bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah sama sekali dengan ruang nya.

Menikmati Sensasi Art di De Braga by Artotel


Dulu waktu masih berKTP Tangerang Selatan, saya selalu picky setiap kali mau ke Bandung. Saya pengen nginep di tempat yang begini dan begitu. Dan mindset bahwa kalau ke Bandung harus menginap di daerah atas yang dingin dan sejuk ternyata salah besar. Karena ternyata saya baru sadar setelah tinggal di Bandung, bagian paling menyenangkan dari kota ini adalah sejarah kota yang sangat kaya. Bahwa Bandung adalah salah satu kota yang menjadi destinasi plesirannya bangsa Belanda saat mereka menjajah kita dahulu. Dan pusat kota Bandung merupakan bagian paling penting dimana di sana terdapat Kantor pemerintah (Balaikota), pusat pertemuan masyarakat (alun – alun), pusat ekonomi (Bank Indonesia) dan tempat ibadah (Mesjid di alun alun dan gereja katedral).

Semua pusat heritage kota nyatanya terletak di tengah – tengah dan Jl Braga menjadi salah satu jalan utama yang menjadi jantung yang senantiasa berdenyut menghidupkan kemeriahan kota. And I love the fact that I live near that place now. Braga selalu memiliki daya magis yang luar biasa setiap saya melaluinya.

Selasa, 08 Januari 2019

Keluarga Cemara dan Patriarki di Indonesia


Kaki keseleo adalah oleh oleh yang saya dapat seusai menonton film Keluarga Cemara bersama teman – teman CS Writers club. Saking semangatnya mendapat kesempatan nobar ini, saya sampai niat untuk membawa tripod untuk berfoto. Saya tidak ingin ada yang tertinggal dan tidak ada dalam frame. Seusai berfoto di dalam bioskop yang mana ternyata seisi studio sudah tinggal kami, maka semua bergegas pergi dan saya yang terburu – buru, membawa tripod sambil melihat hasil foto terjatuh di tangga turun. Beberapa detik saya sempat tidak bisa bergerak karena shock dan kesakitan. Lucunya ini persis dengan kondisi Abah yang juga terjatuh saat sedang bekerja di proyek. Jatuhnya abah lebih sadis, meskipun saya gak yakin apakah kaki abah patah atau hanya keseleo seperti saya.

Rasanya energy dan chemistry film ini begitu meresap sampai sampai adegan jatuh saya sandingkan. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh teman – teman termasuk saya saat di beberapa adegan kami naluriah meneteskan air mata atau tertawa akibat tingkah polah Ara yang sangat polos. Film keluarga Cemara layak direkomendasikan untuk di tonton bersama keluarga.