Sabtu, 18 Januari 2020

Pesan yang Sempurna dalam Film Imperfect


Disclaimer : Tulisan ini mengandung misuh – misuh dan kesedihan dengan curhatan yang mungkin menyebalkan bagi beberapa orang. But you know, this is my blog. So, enjoy ya! Happy reading!

Selama hidup ada banyak banget hal yang sering menganggu pikiran dan keteguhan hati kita. Hal hal yang membuat mulut berlekuk terbalik, mata enggan memandang cermin, air mata mengalir deras tanpa aba – aba, sampai hembusan nafas kencang saat sadar bahwa selalu ada yang salah. Kita jadi gak percaya sama diri sendiri. Semua benteng keyakinan yang susah payah kita bangun runtuh seketika.

Dari keluarga, masyarakat sampai diri sendiri sering lupa bahwa kita nih terlahir sempurna dengan segala ketidaksempurnaan yang kita miliki. Hal itu saya rasakan betul setelah menonton film Imperfect yang berhasil membuat air mata saya mengalir deras di kursi pojok atas bioskop. Bahkan saya harus menyembunyikan tangisan di sudut ruang tergelap yang sudah jelas ga keliatan saat film sedang diputar.

Jumat, 03 Januari 2020

The Golden Bracelet | My Spiritual Journey (Part 5)

Pada hari di mana Olva mengabari saya bahwa pesawat kami ke Singapore 30 November mendatang akan delay, saya sangat frustasi. I know I shouldn’t think that way, but I am. Saya yang kala itu sedang lumayan sibuk membereskan pekerjaan organisasi lantas duduk sejenak dan berdoa, “God I really want to meet them. It’s like once in a lifetime moment that I cannot.. that I don’t want to skip. So if You can give me a chance to watch the second show. I will be bless”.

Affirmasi positive kemudian mempertemukan saya dengan rejeki – rejeki yang luar biasa. Sampai suatu hari saya memutuskan untuk membeli tiket kedua. Meski uang sudah berada di tangan, saya merasa meminta izin suami perlu saya lakukan. Even I know, asking for permission isn’t so me at all. The rebel Ayu know how to seek happiness for herself without anyone permission. Tapi kan ya gimana? Heu. Dan dugaan saya bahwa pak Suami tidak memberikan izin membuat kami sempat bertengkar hebat dan saya menangis semalaman. I hate the fact that I don’t listen to myself, no need for ask permission. Lol. Just say it after you buy the ticket! Dan pada akhirnya saya membeli tiket keesokan paginya tanpa memberitahukan suami.

Mungkin banyak yang berfikir, kenapa saya mengabaikan nasihat suami saya. Well, Saya malah berfikir tentang kesenangan – kesenangan yang selalu saya upayakan untuk orang lain selama sepuluh tahun terakhir sejak saya terinfeksi HIV. I always thinking about my daughter happiness, bagaimana menolong orang lain di sekitar saya agar pulih baik secara fisik maupun mental.

Selasa, 17 Desember 2019

The Excitement of Day 1 | My Spiritual Journey (Part 4)


30 November adalah hari yang saya tunggu selama enam bulan terakhir. Namun segala perencanaan dan semangat yang saya bangun termasuk upaya mengumpulkan uang dengan menjual karya pupus sudah karena kemudian saya mendapat kabar dari Olva bahwa pesawat yang akan kami naiki dari Bandung menuju Singapore sudah dipastikan akan delay. Pesawat yang harusnya berangkat pukul delapan, kemudian mundur menjadi pukul 12.35 yang berarti di Singapore sudah satu jam lebih. Saya membayangkan kami akan tiba di sana pukul 15.35, melewati area imigrasi..naik MRT dan berjalan menuju stadion. But yeah, I have to accept the thing that I cannot change.

Maka saya berniat hari itu jangan sampai jadi mubazir hanya karena saya dikendalikan oleh rasa sedih. I am sad because of the change, tapi saya ga ingin rasa syukur saya juga hilang. So yeah.. I decide to ikhlas. I let go of the things that will make me crazy.