Sabtu, 11 Agustus 2012

Perjuangan yang terjawab

"Klinik dapat kiriman Surat dari Kemenkes..”  
tulisan bbm yang saya terima siang itu..

Lalu tak lama kemudian saya mendapat kiriman surat tersebut melalui email. Lalu saya baca dengan perlahan. Jantung saya berhenti selama 1 detik. Saya menahan nafas dan ingin menangis. Perjuangan kami berhasil, batin saya. Langsung saya mengirimkan kembali surat tersebut kepada Aditya Wardhana, Bani Risset dan Irwandy Widjaja.

Tentang Bahaya d4T (Stavudine)

Orang yang hidup dengan HIV di Indonesia sampai saat ini masih mendapatkan ketidakadilan dalam hak mendapat pengobatan. Salah satunya adalah pemberian obat berjenis d4T (Stavudine) yang nyata nyata sudah tidak disarankan dalam Pedoman ARV dari WHO yang sudah diadaptasi pedomannya oleh kementrian Kesehatan. 

Dapat dilihat dan di unduh pedoman ARV dari Kemenkes terbaru dalam Link ini:

Obat ARV jenis d4T tersebut memiliki beberapa efek samping beberapa baik yang mengancam jiwa atau dapat menyebabkan kerusakan serius jangka panjang. Ini adalah:
  • Asidosis laktik (penumpukan asam laktik dalam tubuh), yang dapat mengakibatkan kematian jika tidak diobati cukup dini.
  • Neuropati perifer (kerusakan saraf di tangan dan kaki, terutama kaki dan tungkai), yang mungkin tidak dikembalikan efeknya pada beberapa pasien. Hal ini menyebabkan rasa sakit dan kesulitan dalam berjalan.
  • Lipoatrofi (kehilangan lemak subkutan, terutama pada tungkai, pantat dan wajah) yang biasanya tidak bisa dikembalikan kecuali melalui operasi reparatif. Pasien menemukan hilangnya lemak sangat mengganggu dan meningkatkan stigma

Penggunaan d4T dalam pengobatan lini pertama ditinggalkan di Amerika Serikat dan Eropa setelah melakukan perbandingan dengan AZT dan dengan rejimen yang mengandung tenofovir menunjukkan bahwa pasien yang menerima d4T lebih cenderung menderita lipoatrofi. (Sumber: Yayasan Spiritia)

Saya termasuk ke dalam salah satu pengguna d4T. selama 6 bulan setiap bangun tidur saya merasakan keram yang luar biasa hebat pada jari kaki dan tangan saya. Punggung kadang sampai tidak dapat bergerak. Lalu setiap sedang mengendarai motor, saya bahkan sampai harus berhenti karena tangan saya tidak bisa bergerak untuk mengemudikan motor tersebut. Hal ini amat sangat membahayakan. Beruntung saya peka dan mencari tahu kondisi ini. Sehingga saya langsung mengkonsultasikan kepada dokter saya, dan segera diganti d4T tersebut  di bulan kemudian.

Lain halnya dengan beberapa teman odha yang justru tidak mendapat informasi sama sekali. Atau bahkan dokter tidak mengijinkan penggantian obat. Ketidakpahaman ini berakibat sangat fatal. Sehingga pada beberapa teman odha yang mengkonsumsi d4T lebih dari 3 tahun, mengalami perubahan fisik yang sangat tidak baik. Kaki dan tangan mengecil. Perut, punggung dan dada membesar. Pipi cekung dan terlihat seperti orang yang sudah tua. Hal ini jelas sangat mengganggu masalah Psikososial seseorang. Dia bahkan bisa mendapat diskriminasi bukan karena status HIV nya, melainkan karena kondisi fisiknya. Untuk Neuropati perifer (kerusakan saraf di tangan dan kaki, terutama kaki dan tungkai), yang mungkin tidak dikembalikan efeknya pada beberapa pasien. Hal ini menyebabkan rasa sakit dan kesulitan dalam berjalan. Sifatnya sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kerusakan saraf permanen.

Upaya Indonesia AIDS Coalition

     IAC melihat ini sebagai suatu hal yang serius untuk segera ditindak lanjuti. Bermodalkan kesungguhan dan tekad. Serta perencanaan advokasi yang matang. Kami memulai usaha usaha untuk menekan pemerintah agar segara menarik peredaran obat ARV d4T tersebut. Mengumpulkan banyak Narasumber, yaitu dari teman teman ODHA yang menggunakan d4T, yang mengalami efek samping. Kami mendapat banyak dukungan dengan bersedianya teman teman berbicar aatas nama korban. Baik berupa video, keterangan tertulis dan wawancara. Kami mendapatkan sejumlah bahan sebagai bukti bahwa memang obat ini berbahaya dan layak untuk segara ditarik. Rekan media dan Teman teman penggiat HIV AIDS juga banyak membantu. Mulai dari menyebarkan informasi, mensosialisasikan Panduan ARV yang tepat dan mendesak penyedia layanan meng-evaluasi pasien yang masih menggunakan d4T. 



  Berikut Berita tentang d4T yang dimuat di Beritasatu.com sebagai salah satu bahan Advokasi


Perjuangan yang terjawab

dan akhirnya hari itu tiba Kementrian Kesehatan telah mengeluarkan surat resmi kepada seluruh Rumah Sakit Penyedia ARV di Indonesia untuk mulai melakukan penggantian obat ARV jenis d4T dengan ARV jenis yang lebih aman (TdF). Hal ini bukan saja menyelamatkan ODHA yang mengkonsumsi ARV jenis ini namun juga akan mengurangi kekuatiran ODHA baru yang akan mengkonsumsi ARV guna dapatkan jaminan obat yang aman.

seperti yg saya kutip dalam berita di web IAC..
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam surat ini juga disebutkan bahwa ARV untuk anak dengan sediaan tunggal berbasis Zidovudine akan mulai tersedia bulan September 2012. Ini akan memupus kekuatiran orangtua ODHA yang selama ini memberikan ARV kepada anaknya dengan bentuk puyer yang berasal dari ARV dewasa yang ditumbuk secara manual. 

Ini adalah sebuah aksi yang menunjukkan Kemenkes terus berbenah dalam mengupayakan program penanggulangan AIDS yang lebih bersahabat dengan ODHA di Indonesia. Dan usaha teman teman penggiat HIV dan AIDS dan teman teman ODHA yang berani bersuara menunjukan hasil yang baik, dan pemerintah mendegar suara kami. Terima kasih Kementrian Kesehatan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


dalam Link ini, teman teman dapat mengunduh Surat yang dikeluarkan Kemenkes, untuk membantu mesosialisasikan kepada teman teman ODHA yang masih menggunakan d4T untuk segera mengkonsultasikan kepada dokter

Ini belum selesai disini, perjuangan masih terus berlanjut kawan!



*gambar dokumentasi pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar