Rabu, 03 Mei 2017

40 Jam Bersama Sir Miguel Arkananta

Dia yang lahir saat matahari sedang hangatnya
"Lost love is still love. It takes a different form, that's all. You can't see their smile or bring them food or tousle their hair or move them around a dance floor. But when those senses weaken another heightens. Memory. Memory becomes your partner. You nurture it. You hold it. You dance with it.” ― Mitch Albom

Pada hari selasa, 25 April 2017 tepat pukul 6.30 pagi, seorang bocah gembul dengan berat 3,07 Kg dan panjang 46 Cm telah lahir dari rahim saya yang mungil melalui operasi cesar yang direncanakan dengan baik dan matang. Sir Miguel Arkananta nama yang kami sematkan padanya, memiliki makna Pengikut Tuhan yang selalu diterangi. Nama yang kami dapat dari serangkaian perdebatan panjang khas orangtua yang akan memiliki bayi, penuh semangat dan penuh cinta.

Miguel lahir tanpa tangisan keras yang biasanya bisa membangunkan tetangga sebelah rumah saat seorang bayi lahir, dia hanya menangis pelan sembari merintih dengan nafas yang terengah - engah. Saya terbaring lemah pasca operasi, tidak ada upaya inisiasi menyusi dini ataupun skin to skin contact dengannya. Semua disesuaikan dengan kondisi sang ibu dan bayi, begitu kata dokter. Nyatanya kami tidak bisa bertemu di awal kelahirannya. Tangisnya yang pelan menjadi tanda tanya bagi tim dokter, yang kemudian memutuskan untuk melakukan observasi lebih dalam untuk mencari tahu apa yang terjadi pada anak ini.

Saya, hanya bisa tersenyum menahan sakit dan bahagia saat Febby suami saya menunjukan video dan foto - fotonya. Anak yang sangat menggemaskan, saya bahkan tidak berfikir lebih mirip siapa anak ini. Sir Miguel Arkananta telah lahir kedunia, kami sudah sangat bangga dan bersyukur. Berselang beberapa jam setelah operasi, dan observasi dilakukan pada bayi kami suami saya menghubungi via telfon dari ruang observasi bayi "Mam, Miguel tidak kunjung menangis. Kata dokter rasio oksigen di tubuhnya hanya 60%, harus menggunakan alat bantu. Jangan berhenti doa ya."

Sesaat setelah lahir, putih dan gembul :)
Di ruang observasi tidak ada perkembangan, tidak menangis
Mulai dipasang alat penunjang tahap awal :(

Alih - alih harusnya saya berdoa untuk keselamatannya, malah tangisan saya pecah tidak karuan dari kamar 304 di RS Hermina Arcamanik. Saya menjerit dan menangis minta bertemu dengan putra saya yang hanya berada tepat 1 lantai di ruang perawatan. Sayangnya jeritan saya tidak menggugah perasaan dokter dan para perawat. Mungkin mereka tidak tahu yang saya rasakan saat itu, hancur. Saya tidak mendapat ijin untuk meninggalkan kasur di kamar perawatan dengan alasan utama pasca operasi, bisa berbahaya jika saya banyak bergerak. Saya hanya bisa menangis, ditemani Mama.

Sang ayah tidak beranjak dari ruangan tempat Miguel mendapatkan perawatan, bersama sang kakak Malika. Sesekali dia mengirimkan kembali gambar - gambar Miguel dengan tubuh gempalnya, atau videonya yang malah membuat saya menangis karena melihatnya dipasangi banyak sekali alat. Sekali lagi saya hanya bisa menangis. Sampai saya mendengar kabar, pasca 6 jam observasi dan penggunaan alat bantu standar tidak menunjang pernapasannya, dan memperbaiki kondisinya menjadi lebih baik. "Miguel harus dipasang ventilator untuk membantunya bernapas mam. Saya sedang cari rumah sakit yang punya Ventilator dan NICU nya kosong. Disini, hanya punya ventilator dan sedang digunakan. Kamu yang sabar ya, istirahat aja.. jangan putus berdoa".

Hari Pertama Malam - Sudah dipasang ventilator di RS Borromeus :(
Hari kedua - pagi, masih di RS Borromeus dengan Ventilator :(
Kali itu saya tidak menangis, rasanya terlalu lelah setelah seluruh energi saya keluarkan sejak pagi untuk operasi sampai sore itu. Saya hanya terdiam, beberapa kali memejamkan mata sambil membaca Al fatihah, surat pendek yang kala itu paling mudah saya ingat dan saya bacakan untuk Miguel. Pukul 5 sore, jarak antara kami semakin jauh.. bukan hanya sebatas 1 lantai tapi sekitar 8 kilometer jauhnya. Karena putra kami harus dipindah ke RS Borromeus, Ruang NICU dan Alat Ventilator telah menantinya disana. Dada saya semakin sesak, luka operasi saya tidak berhenti berdenyut sakit walaupun sudah diberikan obat anti nyeri. Setiap saat saya menghubungi suami saya, melalui whatsapp, video call, telfon dan semua cara untuk mengetahui kondisi terkini. Jawabannya tidak banyak perubahan, tidak banyak perkembangan. Selain itu suami saya tidak bisa setiap saat berada di ruang NICU karena ruang tersebut memang dibatasi dengan jam kunjungan.

Rabu, 26 April 2017 dini hari, suami saya bertemu dengan dokter anak. Dokter mengatakan, bahwa anak kami memiliki masalah Hyalin Membran Disease (HMD) Hyaline Membrane Disease (HMD), yang juga dikenal sebagai respiratory distress syndrome (RDS) atau gagal nafas. Umumnya terjadi pada bayi yang lahir prematur, tapi juga bisa terjadi pada Miguel karena kondisi - kondisi tertentu. Perawatan dengan menggunakan ventilator ini tidak cukup hanya 3 atau 4 hari, minimal 14 hari atau bahkan bisa berbulan - bulan tergantung kondisi sang bayi. Selain membicarakan masalah medis, dokter juga kemudian memberikan gambaran biaya yang cukup membuat kami shock, dalam tempo 7 hari kemungkinan biaya bisa mencapai 80 juta rupiah, dan tidak semua bisa dicover oleh BPJS. Dari mana uang itu kami cari?. Suamipun menyampaikan semua hal itu kepada saya melalui telfon. Kami bingung setengah mati, saat itu kami tidak sadar sudah kehilangan keyakinan pada kekuatan Tuhan dan Alam Semesta.

Dengan alasan biaya, kami bersepakat untuk memindahkan Miguel ke rumah sakit lain dengan biaya yang lebih terjangkau, atau jika memungkinkan dapat tercover oleh BPJS. Meski rasanya, saya punya firasat buruk jika harus memindahkan Miguel dalam kondisi seperti itu. Hari itu, Miguel dipindahkan ke RSUD Kota Bandung, dengan ijin dari dokter anak, Miguel diantar menggunakan ambulance didampingi oleh neneknya- ibu saya, dan ayahnya. Sepanjang perjalanan, Miguel kembali menggunakan alat bantu nafas manual.

Di lain tempat, seluruh alat yang menempel di tubuh saya perlahan dicopot. Saya tidak lagi menggunakan kateter dan infus. Dokter meminta saya untuk belajar duduk, serta berdiri. Dengan penuh semangat, meskipun rasanya luar biasa sakit saya mencoba melakukannya. Hati kecil saya berkata, besok saya sudah boleh pulang, saya akan langsung ke RSUD dan menggendong bayi saya yang sedang berjuang untuk bernafas. Miguel akan pulih segera, dia anak yang kuat. Hari itu saya benar - benar sendirian, semua yang tidak bisa saya lakukan sendiri dibantu oleh perawat yang datang saat saya memencet tombol bantuan. Beberapa kawan datang membesuk dan memberikan semangat. Sampai sore hari, saya merasa badan saya demam, handphone saya jatuh dari kasur, tombol bel untuk memanggil suster tidak dapat saya jangkau, semua terjadi bersamaan. Saya paksa diri saya sendiri untuk bangun, saya harus menghubungi Febby, batin saya.

Pukul 6 sore, mereka tiba di RSUD Kota Bandung. Ada sedikit kelegaan di hati saya, meskipun rasa khawatir itu jauh lebih besar mengingat kondisi Miguel yang tidak stabil dan dia baru saja menempuh perjalanan panjang menggunakan alat bantu nafas manual. Lalu saya melakukan kebodohan, saya merengek agar mama kembali ke rumah sakit untuk menemani saya karena rasanya badan tidak enak dan saya tidak nyaman berada sendirian di rumah sakit. Padahal, Febby sangat membutuhkan mama disana. Lalu suami saya bilang, untuk sabar menunggu sebentar sampai Miguel masuk ke NICU dan dipasang ventilator, yang ternyata membutuhkan waktu lebih lama di UGD.

.... .... ...

Pukul 20.30 malam suami saya mengirim pesan bahwa kondisi Miguel menurun, keep praying. Saya sudah bersama mama, dan Miguel sudah di NICU serta alat ventilator pun sudah terpasang. Selepas pukul 9 saya minum obat, dan memutuskan untuk tidur. Pukul 11 lebih, febby menelfon saya sembari menangis terisak - isak, dengan signal yang terputus - putus dia berusaha menyampaikan pesan yang saya tangkap dengan rasa tidak karuan "Mam, Miguelnya udah gak ada ... ... ... ... kata dokter gagal nafas, sudah 3x dicoba .... .... .... ....  'Ini gak bisa dicoba lagi dok? sudah pasti gak ada anaknya?' ... ... ... mam, ikhlas ya.. miguel nya meninggal ..." lalu telfon terputus.

Sir Miguel Arkananta hanya bisa bertahan hidup 40 Jam.
Saya menangis, menjerit, mengamuk di rumah sakit.. saya marah pada diri saya sendiri.

Pertemuan pertama & terakhir kami  
Pukul setengah 1 pagi, saya tiba di RSUD. Saya melihat suami saya di ruang jenazah, disamping bayi kami Miguel yang sudah ditutup oleh kain. Tubuhnya masih hangat. Akhirnya setelah 40 jam, saya bisa menggendongnya. Meski dia sudah tidak membuka mata, bernafas, bergerak. Tubuh gempalnya tidak menggunakan pakaian, hanya berbalut kain yang menyisakan wajahnya. Sambil duduk di kursi roda, saya memeluk Miguel erat, menciumnya berkali - kali, meraba kedua tangannya yang sudah tidak bisa mengenggam jari - jari, mengelus lengannya yang dipenuhi bulu - bulu halus. Rasanya seperti dia sedang tertidur pulas saja. Bayi gembul yang menemani, selama 38 minggu lamanya. Yang menjadi teman bicara setiap malam, yang menendangku saat lapar, yang memaksaku untuk segera berlari ke kamar mandi saat kandung kemih sudah penuh, yang kami rawat dan jaga selama di kandungan dengan penuh cinta.. dan yang kulahirkan dengan perasaan syukur dan bangga. Sir Miguel Arkananta.

Hari ini, 7 hari telah berlalu. Kami melanjutkan kehidupan tanpa Miguel. Jangan tanya berapa banyak air mata mengalir dari kedua mata saya, atau bagaimana kebisuan mendadak menjadi bagian dari percakapan kami sehari - hari.. atau jangan pernah larang saya juga untuk menyesapi setiap kesedihan yang setiap saat bisa hadir saat mengingat setiap kenangan saya dengannya semasa hidup, mulai dari sebesar bibit.. hingga saya bisa dekap saat jantungnya sudah tidak berdegup lagi.





Sir Miguel Arkananta..
Meski kini, umi, Papi dan kakak Malika hanya bisa memandangi wajahmu melalui foto - foto dan video yang papi dokumentasikan selama di rumah sakit, atau hanya bisa berkunjung ke rumah peristirahatanmu, atau mengingatmu dalam setiap doa.. Kau adalah bayi kesayangan kami bertiga nak. Si gembul yang selalu hidup bersama kami. Maafkan upaya - upaya yang tidak cukup keras kami lakukan untuk mempertahankanmu, dan membantumu dapat bernafas..

Tidurlah dengan tenang anakku sayang,
Kami yakin Allah swt memiliki keputusan terbaik bagi kita..

Allahumma Illa ruh Sir Miguel Arkananta bin Febby Arhemsyah Muchdi.. Al Fatihah.

36 komentar:

  1. Innalilahi wainna ilaihi rajiun

    Turut berduka ya mba, semoga Miguel tenang di Sisi NYA. Dan semoga semua segera dikuatkan. Aku ga bisa nahan nangis bacanya :(

    BalasHapus
  2. Ya Allah mb Ayu, saya ikut berduka cita ya. Aku nangis sesenggukan bacanya. Yg kuat ya, dedek sir udah tenang di sana
    Semangat ya mb
    I feel u hiks

    BalasHapus
  3. Ikut sedih membaca tulisan ini. Yang sabar ya mba..

    BalasHapus
  4. Sabar ya mba :(
    Aku hanya bisa mendoakan agar mba dan keluarga diberikan kekuatan. Aamin

    BalasHapus
  5. Ikut berduka cita ya mbak semoga mbak sekeluarga diberikan keikhlasan dan ketabahan

    BalasHapus
  6. Innalillahi wa innailaihi rojiun..ikut berduka cita..semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan...aminn..

    BalasHapus
  7. Al Fatihah buat Mba Ayu, saya lagi hamil Mba, ikut nangis bacanya hiks, semoga Mba Ayu dan keluarga diberi ketabahan dan kesabaran ya, aamiin

    BalasHapus
  8. turut berduka cita ya mba.. sedih pas baca ceritanya.. semoga miguel mendapat tempat terindah di sisi Allah SWT.. al fatihah buat miguel

    BalasHapus
  9. Innalillahi, turut berduka mbak :( Insya Allah jadi ladang pahala bagi mbak dan suami kelak.

    BalasHapus
  10. Mba Ayu....
    Mas Febby
    Kak Malika
    Sing sabar...
    Sing kuat..
    Sing makin erat saling menjaga sstu sama lain..
    Insyaa allah..Miguel ada di tempat terbaikNya....
    Peluk dari saya...pembaca blog Mba Ayu...

    BalasHapus
  11. Al faatihah untuk Sir Miguel. T_T
    Insya Allah Miguel dapat tempat teramat indah di pangkuan Sang Maha Cinta, Gusti Allah.

    BalasHapus
  12. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un terbayang rasa sakit dan sedihnya mba. Semoga diberi ketabahan mba dan keluarga

    BalasHapus
  13. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Yang tabah dan sabar ya mba. Miguel punya keluarga hebat yang selalu mendoakannya.

    BalasHapus
  14. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun turut berdukacita mba

    BalasHapus
  15. Sedih bacanya... Yg sabar ya mbaa.. :(. Dedek udah mendapat tempat paling indah di sisi Allah. Mba yg kuat yaaa.. :(

    BalasHapus
  16. saya nangis baca ini mba, saya merasakan sekali kesedihan mb semoga mb ttp kuat jalaninjni semua*peluk kenceng

    BalasHapus
  17. Saya tidak merasakan yang kamu rasakan tapi saya tahu yang kamu rasakan. Bersabar dan ikhlas ya. Tuhan sudah menyiapkan tabungan untukmu dan suamimu di Jannahnya. Pelu erat buat Kamu.

    BalasHapus
  18. innalillahi wainaillaihi rojiuuun...bebe Miguel sudah tenang di surga-Nya mba...aku ngga bisa bilang apa-apa lagi selain tabah, sabar dan ikhlas ya mbaaa

    BalasHapus
  19. Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Semoga Mba dan keluarha diberikan kesabaran. Tetap kuat ya Mba, masih ada Kaka Malika yang membutuhkan kehadiran Mamanya.

    BalasHapus
  20. Aku speechless waktu ngelayat Ayu tempo hari. Ga bisa berkata banyak selain menyampaikan turut berduka cita. Insya Allah, Allah sayang sama Ayu, Miguel dan keluarga yang ditinggalkan. *peluk*

    BalasHapus
  21. innalillahi wa innailaihi rojiun. Sabar ya mbak,

    BalasHapus
  22. Alfatihah buat Miguel. :(((((

    BalasHapus
  23. Innalilahi wainna ilaihi rajiun

    Turut berduka ya mba, semoga Miguel tenang di Sisi NYA.

    BalasHapus
  24. Innalillahi wa inna lillahi rojiun...
    Saya turut berduka cita ya mbak. Sungguh saya bacanya sambil mbrebes mili.
    Tahu banget gimana rasanya pasca sesar, dan kekhwatiran mengenai baby yg sudah kita lahirkan.

    Al fatihah..

    BalasHapus
  25. Semoga menjadi anak yang mengantarkan mbak ayu dan mas febby ke surga Nya allah swt aminn ya allaj

    BalasHapus
  26. Innalilahi wa Inna ilaihirojiuun. Turut berduka cita ya mba. Sedih banget rasanya.

    BalasHapus
  27. Turut berduka cita ya Mba

    BalasHapus
  28. Innalillaahi wa innailaihi rojiuun. Turut berduka cita ya mbak. Semoga mbak dan keluarga diberikan ketabahan, kesabaran dan kelapangan. Aamiin.

    BalasHapus
  29. Ga sanggup bacanya T_T turut berduka cita, Mbak. Semoga Allah melimpahkan kesabaran dan ketegaran untuk mbak sekekluarga #hug

    BalasHapus
  30. Yang sabar ya mbak... Akupun pernah mengalaminya. Mereka yang telah pergi dari dunia ini sejatinya masih hidup di hati orang2 yang menyayanginya.

    BalasHapus
  31. Innalillahi wa inna ilahi rojiun.. Turut berduka cita ya mba.. nangis aku bacanya.. ngeresap rasanya krn aku baru lahiran jg.. yang tabah ya mba..

    BalasHapus
  32. Innalillahi wa inna illaihi roojiun. Yang kuat yaaa teh Ayu dan suami juga Malika solehah.

    BalasHapus
  33. Innalillahi, pada akhirnya dia kembali kepada sang pencipta. Tetap semangat ka ayuuu. Allah sayang miguel❤

    BalasHapus
  34. All the best for you and your family mbak

    BalasHapus