Kamis, 23 November 2017

Lapangan Bola untuk Anak - anak Surga

Ilustrasi : Petugas konstruksi di surga terlihat tengah menyelesaikan pemasangan jaring pada gawang lapangan bola. Rumput hijau yang ada pada lapangan ini bukan rumput sintetis, rumputnya adalah rumput terbaik yang tumbuh dan teksturnya lembut, tidak menyakitkan jika digunakan berlarian tanpa alas kaki. Beberapa anak berdiri di pinggir garis putih yang mengelilingi lapangan, memandangi dengan harap agar lapang dapat selesai tepat waktu. Karena mereka hendak menyambut ketua geng komplek Adam yang hari ini akan datang untuk menemui mereka.. Abhi, Gibran, Miguel dan banyak anak - anak hebat lainnya yang telah pergi terlebih dahulu. Di ujung pintu surga, Malaikat Ridwan memanggil anak - anak untuk bersiap - siap memberikan pelukan hangat menyambut Adam Fabumi Kamaludin.

Sementara di bumi bagian Bandung, saya sedang asik menyelesaikan beberapa pekerjaan di hadapan laptop yang layar monitornya menyala terang. Tiba - tiba ada notifikasi masuk dari sebuah website berita yang saya aktifkan fitur news update nya. Headline nya tertulis "Adam Fabumi, Bayi Lucu dengan penyakit Trisomy 13 Meninggal dunia". Jari saya yang sedang sibuk mengetikan kata - kata sontak terhenti. Saya menarik nafas panjang, berusaha mencerna kalimat dalam berita tersebut. Sampai akhirnya air mata saya tumpah. Sambil sesenggukan saya mengirimkan pesan kepada suami saya "Pak, Adam meninggal. Kalau sudah selesai acaranya, pulang yah. I'm not feelin good".

***

in memoriam Sir Miguel Arkananta
Sejujurnya saya ga tau harus memulai tulisan ini darimana. Rasanya setiap kata yang saya tuliskan hanya akan membuat saya menangis. Tapi saya akan coba. Pertama kali mengenal Adam serta kedua orangtuanya, adalah tanggal 31 Mei 2017. Saat itu kami memasuki bulan ketiga pasca kepergian putra kami Sir Miguel Arkananta. Pada saat itu kondisi saya belum pulih benar, sedikit - sedikit menangis dan kebanyakan diam tidak bisa berkata - kata. Saat itu di search feed, saya melihat postingan dari akun bernama @adamfabumi yang mana orangtuanya sedang mencari kontak home care yang bisa menyewakan Ventilator. 

Sedetik, saya langsung teringat upaya suami di bulan April saat kalang kabut mencari rumah sakit dengan NICU plus ventilator yang available untuk digunakan oleh bayi baru lahir. Saya juga teringat kata - kata dokter saat meminta kami mengikhlaskan kepergian Miguel, "Bu, kalaupun Miguel bertahan. Mungkin dia akan membutuhkan perawatan jangka panjang. Mungkin ventilator ini harus terus dipasang sampai paru - parunya bisa bernafas dengan sempurna. Namun jika mampu bertahan dengan masalah Hyaline Membran Disease ini, bayi akan kerap menemui masalah pernafasan hingga dewasa."


Ratih dan Ludi, kedua orangtua Adam Fabumi mengupayakan hal tersebut pada anak mereka. Pada saat saya mulai mengikuti perjalanan mereka Adam sudah berada di Rumah sakit kurang lebih satu bulan lamanya. Adam Fabumi lahir dengan Sindrom Patau atau disebut juga Trisomy 13, penyakit yang saya tidak pernah sama sekali mendengar seumur hidup saya. Penyakit apa lagi ini, batin saya dalam hati. (Kalian bisa baca di artikel ini : Mengenal Trisomy 13, Kelainan Genetik yang Diderita Bayi Adam Fabumi.)

Mengikuti perjalanan Adam, perlahan menyembuhkan luka hati saya karena kehilangan Miguel. Cara Ratih dan Ludi membuat caption, selalu mengembangkan senyum saya yang terkikis beberapa bulan kebelakang. Ketua geng komplek atau ketua kelas NICU, menghibur hati yang lara melihat mirisnya kondisi Adam yang sangat bergantung pada Ventilator. Adam anak yang luar biasa, dengan kompleksitas kondisi kesehatannya dia mampu bertahan. Donasi dari masyarakat melalui Kitabisa, berhasil menghadiahkan Adam sebuah ventilator yang dapat membawanya untuk menjalani perawatan intens di rumah. I know exactly how much it takes if you stay in NICU for a day, sejenak saya menyesali mengapa kami tidak mampu untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk Miguel kala itu.

.... ...... ...... 


Beberapa saat Adam terlihat bisa melepaskan Ventilatornya dan kondisinya dinyatakan stabil. Namun di lain kesempatan, kondisi anak itu kembali drop bahkan Adam sempat beberapa kali dibawa kembali ke NICU untuk mendapatkan perawatan dan pemantauan yang intens dari dokter. Siapalah saya ini, hanya ibu galau yang sedang kehilangan lalu dipertemukan dengan Adam dan kedua orang tuanya melalui sosial media. Dari akun Adam juga, saya kemudian mengenal anak - anak luar biasa lainnya yang berjuang untuk hidup seperti Abhi dan Gibran. Melalui Adam, saya memiliki banyak nama yang kerap saya sebut dalam doa - doa saya. Sayangnya, Abhi dan Gibran terlebih dahulu diringankan bebannya oleh Tuhan, keduanya meninggal dunia saat Adam masih berjuang. 

Keyakinan saya bahwa Adam kembali sehat semakin bulat saat mengetahui RAN dan Yura Yunita membuat lagu untuk mereka, dengan keluarga kecil Adam menjadi bagian dari video klip tersebut yang berjudul Melawan Dunia. Kenyataannya ekspektasi kita tidak akan pernah bisa selalu sama dengan rencana Sang Maha Kuasa, kemarin  sore Adam meninggal dunia.

***


"Adammmm..." Miguel, Abhi dan Gibran berlari menghampiri ketua geng komplek yang bertubuh lebih besar dari ketiganya. Kemudian keempat anak itu bersama anak - anak surga lainnya, berlarian mengitari lapangan bola yang baru selesai dibangun untuk mereka. Inna lillahi Wa Inna ilaihi rojiun, Bahagia disana hai anak - anak Surga! 

1 komentar:

  1. Saya ikut terisak padahal hanya liat IG story dan IG photo Adam, kini Adam lebih bahagia ya dan enggak sakit lagi

    BalasHapus