Rabu, 10 Januari 2018

Purwokerto dan Wisuda Pertama di Keluarga Kami

Sumber : Google
Dalam keluarga besar kami, rasanya hanya si adek kecil yang strict to the rule and study hard at school. Sejak dia kecil, ga kurang kurang pencapaian pendidikannya selalu selesai dengan baik dan memuaskan. Kakak saya, belum pernah lulus menyelesaikan studi perhotelannya sudah dapat pekerjaan dan melanglangbuana di negara orang sepuluh tahun terakhir, Abu Dhabi, Dubai, dan Qatar. Sedangkan saya, memutuskan berhenti untuk meneruskan perguruan tinggi di tengah semester perkuliahan dengan alasan malas. OMG what an achievement ayu! 

Hahaha sejujurnya memang sejak kecil saya gak begitu suka dengan pendidikan di Indonesia, saya sering sekali melanggar peraturan karena saya anggap bertentangan dengan prinsip yang saya yakini. Cap anak bandel sering disematkan pada saya, but yeah I dont care. Tapi tidak dengan si adik, dia menjadi satu satunya anak dari kedua orangtua saya yang akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan S1 nya di Universitas Jenderal Soedirman. Kami sekeluarga, Papa mama dan saya minus si mas yang ga mungkin pulang (dari Qatar karena ongkos yang mahal) kami menghadiri acara wisuda si adik yang super sakral itu dengan perasaan bahagia yang luar biasa.  And here is the story!

Saat mendengar sidang skripsi si Adek sudah beres dan semuanya approve, saya langsung dikabari untuk segera memesan tiket kereta. Mungkin ini bisa jadi salah satu perjalanan luar kota tanpa beban pekerjaan, sambil berlibur bersama keluarga meskipun tetap gak bersama pak suami dan Malika. Saya agak super panik sih karena saya belum pernah ke Purwokerto sebelumnya, dan si adik menyarankan saya untuk menggunakan kereta. Karena takut kehabisan kereta, saya langsung ke stasiun untuk memesan tiket kereta. Adik saya menyarankan saya untuk memesan 2 tiket, supaya saya bisa menyelonjorkan kaki. Ya karena sudah di sarankan oleh si adik, jadi saya mau ga mau mengikuti sarannya.

Di hari keberangkatan ke Purwokerto saya sudah menyiapkan amunisi makanan dan cemilan karena perjalanan mengunakan kereta api dari stasiun Kiara Condong menuju Purwokerto menempuh waktu sekitar tujuh hinga delapan jam. Malika dan ayahnya menantarkan saya sampai saat kereta tiba, saya bergegas masuk karena ingin segera meluruskan kaki dan memejamkan mata. Rasanya hari itu lelah sekali setelah mengerjakan beberapa urusan dan pekerjaan di hari sebelumnya. Namun yang saya dapat setiba di gerbong ada seorang perempuan duduk di bangku saya.

"Permisi bu, saya duduk di dua bangku ini"
"Oh, jawabnya" lalu dia berpindah ke bangku di depannya.
Mata perempuan tersebut sibuk memandangi saya yang duduk dan merapihkan barang - barang yang say abawa. Sebuah tas merah berisi pakaian saya letakan di bangku sebelah saya, dan ransel abu - abu saya letakan di bawah dekat kaki.

"Kok duduknya sendiri pesan bangku nya dua?" perempuan itu ternyata bersuara medok, dia kembali bertanya. lalu saya menjawab singkat, tidak ingin jadi ngobrol panjang lebar
"Iya, supaya bisa selonjoran" lalu saya mengambil earphone dan mendengarkan musik lalu memejamkan mata.

"Mau kemana memangnya?" Perempuan itu kembali bertanya. suaranya terdengar samar diantara musik yang volumenya saya pasang kencang. Kesal memang, tapi karena saya mendengar akhirnya saya buka mata dan menjawab singkat.
"Ke Purwokerto, adik saya wisuda. Maaf ibu saya mau tidur ya."

Yang terjadi selama 2 jam selanjutnya adalah berbagai ketidaknyamanan karena bersebelahan dengan penumpang yang ternyata tidak sendiri ini, yap dia bersama sang suami yang ternyata sedang berada di restorasi saat saya datang. Kedatangan sang suami membuat kondisi menjadi lebih tidak nyaman. Sepanjang perjalanan keduanya ngobrol dengana bahasa Jawa ngapak yang sangat kencang, lalu saat tidur sang suami terdengar mendengkur, dan yang paling parah adalah keduanya tanpa rasa malu atau bersalah mengangkat kakinya dan menyelonjorkannya di bangku depan yang mana adalah bangku saya. Saya menghela nafas panjang dan berusaha untuk menikmati sisa perjalanan.

Setiba di Purwokerto, mama papa serta adik saya menjemput saya di Bandara. Dengan menggunakan mobil yang di sewa, dan ada seorang pria yang duduk di area kemudi yang ternyata adalah teman adik saya. Setelah menjemput saya, kami melanjutkan ke salah satu tempat makan tempat adik saya dan kawan - kawannya biasa nongkrong dan makan, sayangnya malam itu Purwokerto diguyur hujan sehingga tidak nyaman untuk makan di warung tenda dengan cara lesehan. Tapi sudahlah, perut saya sudah sangat lapar dan ingin cepat - cepat sampai di penginapan untuk istirahat. Selesai makan, kami mengantar si adik ke rumah salah satu temannya untuk menginap. Karena besok pagi - pagi sekali dia harus merias wajah dan bersiap - siap ke gedung tempat dilaksanakannya wisuda. Sedangkan saya, mama dan papa menginap di daerah Batu Raden yang berjarak tidak jauh dari Purwokerto.

Keesokan paginya, kami dibangunkan oleh suara hujan yang deras mengguyur wilayah Batu Raden. Cuaca dingin menjadi berkali kali lipat dan membuat saya tidak sanggup untuk mandi, tapi harus saya lakukan. Acara wisuda dimulai pukul delapan pagi, dan kami harus masuk ke aula lebih dulu agar mendapat posisi yang nyaman dan jelas agar dapat memotret atau merekam dengan jelas. Ini kali pertama saya menghadiri acara wisuda, sebuah kebanggaan karena ini adalah wisuda dari adik bungsu saya yang akhirnya menjadi wisudawati pertama diantara kami empat bersaudara.

Suasana haru terasa saat sebuah alunan musik di perdengarkan dan terdengar membahana di aula Graha Widyatama Universitas Jenderal Soedirman, menyambut para wisudawan dan wisudawati. Saya melihat adik kecil saya yang bertumbuh menjadi seorang perempuan dewasa, berjalan anggun di selasar di antara bangku para tamu undangan menuju area wisuda. Dia mengenakan toga dan kerudung berwarna biru donker, tersenyum saat melalui barisan kami. Dan saat prosesi dimulai, nama sang adik disebut untuk kemudian resmi menjadi seorang sarjana ekonomi.

Tulisan ini sebetulnya hanya curhat singkat tentang betapa bahagianya saya dan tentunya kedua orangtua serta kakak saya atas pencapaian ini. Meskipun saya tetap berpegang pada prinsip saya bahwa, orang boleh punya pendidikan setinggi mungkin namun kualitas dirinya lah yang terpenting dalam menjalani kehidupan. Hei dik, selamat ya. Semoga gelar sarjana yang merupakan awal dari perjalananmu ini kiranya bisa memberikan manfaat yang besar bagi dirimu dan masyarakat yang ada di sekitarmu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar