Minggu, 15 Juli 2018

Me-manage Rasa Takut Ditinggalkan teman

Semenjak terinfeksi HIV, salah satu perasaan yang paling sering muncul dan menganggu hidup saya sembilan tahun terakhir adalah takut ditinggalkan. Perasaan yang satu ini awalnya muncul karena satu persatu kematian menjadi hal yang paling lumrah terjadi hampir setiap hari. Dan kita semua sama - sama tahu bahwa saat sang malaikat maut datang menjemput, kita ga bisa compromise dan minta keringanan. Yang bisa kita lakukan cuma ikhlas. Tapi ada perasaan takut ditinggalkan lainnya yang kemudian kedengerannya receh pas kalian baca nanti. Tapi buat saya cukup menyiksa.

Saya gak tau apa faedahnya tulisan saya hari ini buat teman - teman sekalian. Tapi mudah - mudahan, saya bisa selalu berefleksi dari apa yang saya alami, teman2 sekalian bisa ikut berefleksi juga kira kira apa yang sebaiknya kita lakukan saat perasaan takut ditinggalkan itu kemudian muncul. Nah yang paling sering muncul soal perasaan takut ini adalah saat akhirnya ditinggalkan teman. YAELAH YU, GITU DOANG. Yup, gitu doang emang.. dan kebanyakan teman - teman yang memutuskan untuk meninggalkan kita tidak menyadari itu. But trust me it hurts to know that people maybe forget you easily.

Ada beberapa cerita tentang ditinggalkan teman yang akan saya ceritakan. Its a real story but I will never mention anyone name. Gue rada pengecut soal ini sebenernya. Tapi kalau ternyata ada pihak pihak yang merasa Kok kayaknya ini soal gue ya, I hope you dont mind to say hello to me. Cerita pertama, Tidak dilibatkan dalam persiapan pernikahan sahabat. Gue bukan tipikal yang punya banyak teman akrab dan lama. Cuma beberapa orang saja di setiapa fase sekolah. Tapi ada beberapa kawan yang memang gue udah anggep kayak sodara sendiri. Dan perasaan ngenes itu kemudian muncul saat kemudian dia datang ke rumah hanya mengantarkan undangan pernikahan. "Nanti datang ya ke akad dan resepsi" yes I did come to those ceremony. Tapi saat kemudian saya sadar ada orang - orang yang ikut repot mempersiapkan pernikahannya dan mereka bukan EO. Maka ada beberapa detik saya merasa sangat tidak dianggap. Dan perasaan itu terasa hingga hari ini, padahal sudah beberapa tahun lamanya. Saya masih sangat sulit melupakan.

Cerita ditinggalkan teman selanjutnya adalah saat saya mulai merasa dekat dengan seseorang meskipun tgidak bertumbuh bersama sejak kecil. Kejadian ini tentu sering terjadi juga pada teman - teman saat mengikuti suatu kegiatan, atau berada di satu event bersama, atau didekatkan karena suatu peristiwa dan akhirnya kita semakin dekat dengan orang tersebut. Tapi sayangnya mungkin teman kita tersebut tidak merasakan chemistry atau kedekatan yang sama dengan yang kita rasakan. Cerita yang ini mengingatkan saya pada seorang blogger yang akhirnya saya unfollow dan jaga jarak karena kini dia lebih sibuk dengan popularitasnya. Dulu dia masih sering merespon jika saya kirin pesan (saya gak pinjem uang ya), sampai akhirnya tidak satupun pesan saya di balas baik melalui DM ataupun whatsapp. Apakah nomer telfonnya berubah? rasanya tidak. Ataukah mungkin DM dari orang lain terlalu banyak? hmm mungkin.  Saya gak tahu bagaimana banyaknya jumlah follower, tawaran promosi dan keuntungan dari pemasukan pada seorang blogger dapat membuat seseorang berubah. But I feel that in you, dan sekarang saya kehilangan satu orang kawan saya lagi.

Cerita kehilangan kawan lainnya adalah saat Perasaan nyaman mulai muncul. It hurt so bad when you know that you're in comfy zone, but your friend not feel the same. Merasa senasib sepenanggungan karena memiliki anxiety tentang banyak hal, saya mulai intense memikirkan salah seorang yang saya kemudian anggap kawan. Yes we spent a lot of time togeher dan saya juga terus memikirkannya setiap saat. Kala sedang keluar kota, saya ingin membelikannya oleh - oleh atau kala saya melihat informasi kesehatan, buku yang dia suka atau hal - hal yang kiranya dapat membuatnya senang. Dan saat kita melakukan sesuatu untuk mereka, they dont really excited or undersand that what were doing is really mean. And than, they just gone. Seperti ada yang salah dari apa yang saya lakukan, tapi ya itu.. ga ada obrolan atau sesuatu. They just leave us.  

WHY YOU DONT SPEAK TO THEM?  mungkin kalian bertanya - tanya pada saya. Ya saya juga bertanya pada diri saya sendiri kenapa saya tidak melakukan itu. To be honest, i don't think that it necessary. Tapi kemudian saya mulai berefleksi. Apakah saya teman yang baik? Apakah saya pernah melakukan hal yang sama (mengabaikan, meninggalkan, mengacuhkan dan tidak memberi kabar?) Mungkin rasanya sering juga saya melakukan itu. Maka akhirnya hal pertama yang saya lakukan adalah tidak lagi melakukan hal hal menyebalkan tersebut. Mungkin saya dapat karma nya.

Bagaimana saya kemudian menyembuhkan diri sendiri dan tidak pusing dengan  perasaan takut ditinggalkan  ini. Ya sudah saya gak mau mikirin lagi. Mungkin sudah saatnya kita juga membahagiakan diri kita sendiri dan ga terlalu sibuk memikirkan apa yang orang lain lakukan pada kita. Atau mungkin juga hal ini yang dilakukan oleh teman teman saya. They make them self happy first, diri mereka adalah prioritas mereka. Gitu deh curhatan pagi buta sembarai nyuci baju di mesin cuci ini. Semoga kalian semua bahagia ya, kalau ada teman yang hilang dari hadapan kalian.. just make sure they are not hurt them self. If they happy, I think its enough.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar