Senin, 14 April 2014

Kartini Next Generation Award 2014

Kartini Next Generation adalah bentuk apresiasi pemerintah kepada kaum perempuan di Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di berbagai bidang baik untuk peningkatan kapasitas, pengetahuan, e-literasi maupun kesejahteraan di masyarakat. Kegiatan Kartini Next Generation sendiri adalah event tahunan Kementerian Komunikasi dan Informatika yang diselenggarakan bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kegiatan Kartini Next Generation diawali pada tahun 2012 dengan tajuk “Apresiasi Kartini Next Generation 2012″ dimana diberikan sebuah Apresiasi kepada para perempuan yang berprofesi sebagai wirausaha, dimana dalam menjalankan usahanya telah menggunakan TIK, dengan harapan dapat memberi suri tauladan dan semangat kepada kaum perempuan untuk memanfaatkan TIK serta mengingatkan kembali kepada generasi sekarang, khususnya kepada kaum perempuan akan perjuangan R.A Kartini dimasa silam. Pada tahun 2012 terpilih 2 (dua) perempuan sebagai penerima Apresiasi Kartini Next Generation. yaitu : Selvi Nurlia (Kek Pisang Villa – Batam), penerima Apresiasi Digital Entrepreneur Product; dan Suryani Aris (duniabermain.com), penerima Apresiasi Digital Entrepreneur Service.

Pada Tahun 2013, Kegiatan Kartini Next Generation dilaksanakan kembali dengan tajuk “Kartini Next Generation Awards 2013 : Inspiring Woman in ICT” dimana diberikan award kepada perempuan – perempuan Indonesia yang dapat memberikan inspirasi maupun teladan yang telah mendedikasikan dirinya baik untuk kemajuan bidang TIK di Indonesia maupun di bidang lainnya dengan menggunakan TIK dalam prosesnya. Berdasarkan seleksi dan wawancara, terpilih 6 (enam) perempuan penerima Kartini Next Generation Awards.

CGK - DXB - CAPETOWN

Mendarat dengan selamat di Dubai, Kelaparan dan Jadi Fakir Wifi -_-“

Dubai International Airport, April 13th 2014 1.26 AM
Sudah satu jam saya berada di Bandara ini. Semua tempat duduk dan tempat beristirahat penuh,  kecuali Emirates Lounge. Bermodalkan 25 USD, saya berhasil membeli Universal Adapter sehingga hp tercinta bisa kembali mengisi sumber energinya. Walaupun sangat sulit untuk mendapatkan wifi, entah kenapa. Saya berusaha keras untuk menyambungkan koneksinya, tapi selalu gagal. Mungkin saya baru akan bisa menghubungi keluarga di Indonesia setelah sampai di Cape Town, South Africa. Penerbangan lanjutan saya selanjutnya pukul 03.05 AM waktu Dubai. Masih sekitar 1,5 jam lagi dari sekarang. Rasanya lapar, tapi yang ada hanya Lounge yang menjual wine dan minuman alkohol. Adapun cafe hanya menjula sandwich yang tentunya saya tidak begitu berselera. Jadi saya memutuskan membeli 2 botol air, dan meminumnya terus untuk menjaga saya dari kelaparan. Saya benar benar lupa harusnya saya membawa cemilan, sehingga saya bisa bertahan, tidak kelaparan.

Undangan ke Afrika Selatan ini kiranya sangat mendadak. Kurang dari seminggu, saya harus mengurus semuanya. Mengurus Visa (lewat jalur khusus), kemudian mengurus travel insurance dan lain sebagainya. Untuk memenuhi undangan dari salah satu organisasi, untuk meeting dengan isu HIV AIDS. Oghhh... I’m so Hungry. Orang dihadapan saya banyak sekali yang berlalu lalang. Ada juga yang sedang bersantai dan tidur, di tempat tempat duduk yang sudah disediakan. Cuma ya itu.. penuh. Sehingga saya tidak berhasil untuk mendapatkan tempat yg nyaman untuk paling tidak memejamkan mata barang sejenak. Saya hanya berharap tiba tiba laptop atau hp saya bisa mendeteksi wifi, dan terkoneksikan, sehingga saya bisa mengabari keluarga atau mengisi kekosongan waktu dengan berjalan jalan di dunia maya. Namun sepertinya untuk sementara, saya hanya bisa duduk sambil mendengarkan musik.

Sedikit cerita tentang Dubai International Airport. Airport ini sangat luas, sehingga kalau kita bingung dan tidak bertanya sudah tentu kita akan tersesat. Beberapa hal yang saya amati adalah, mereka menggunakan mata uang dirham. Namun kalau kita ingin membeli sesuatu menggunakan dollar mereka akan tetap menerima. Pastikan kita tahu berapa jumlah uang yang dibayarkan dan kembaliannya apakah dalam dollar atau dirham. Di Bandara ini, menggunakan “colokan” khusus yang tidak digunakan di Indonesia. Pastikan kalian punya universal Adapter yang bisa disesuaikan dengan negara tempat kalian datang. Di Bandara ini Toiletnya sangat bersih, ada beberapa titik mushola di setiap gate dan ada tempat minum air gratis. Ada juga box penjualan minuman botol dan kaleng yang lagi lagi sama menggunakan uang dirham. Yang kurang menyenangkan hanya, akses wifi yang tidak gratis alias harus bayar atau kita harus punya credit card. Well, thats for Dubai..  Cerita ini akan saya lanjutkan hingga perjalanan saya berakhir di tanggal 17 April 2014 minggu depan.

Suka Duka Bikin Visa



Hidup itu perjalanan. Perjalanan yang dilalui tidak sepenuhnya mulus. Yah kayak Jakarta aja. Kalau di jam yang banyak orang berangkat kerja, pasti hambatannya lumayan bayak. Ya macet lah, ya mogok lah, ya ini dan itu lah. Nah kalau sedang ada libur hari raya atau ada event besar yang bisa bikin semua orang pulang kerumah masing masing dan berkumpul dengan keluarga pasti jalanannya lancar banget, bisa bisa seppi tak ada kendaraan, dan perjalanan yang kita lalui pun akhirnya sangat mulus. Introductionnya kece banget ya tulisan ini, tau gak saya mau cerita soal lika liku membuat Visa lho padahalnya, tapi yah digambarkannya kayak kehidupan.

Visa Amerika

Pada tahun 2012, saya mendapat undangan untuk menghadiri International AIDS Conference di Washington DC, Amerika Serikat. Bagi mereka yang sudah pernah bertolak ke negara Barack Obama ini, pasti tahu betul bahwa proses mendapatkan visanya tidak mudah. Untuk Visa Amerika, kita wajib register via website terlebih dahulu. Mengisi form dengan sangat hati hati, mengupload foto ukuran 5 x 5 cm di website tersebut (kalau ukuran fotonya tidak sesuai, bisa failed deh). Nanti kalau sudah selesai registrasi via online, kita akan mendapatkan nomor pembayaran. Yup.. kita harus transfer sejumlah uang terlebih dahulu melalui 2 bank, salah satunya yang saya gunakan adalah Standart Chartered. Setelah pembayaran dilakukan, kita harus kembali masuk kedalam akun di website kedutaan besar Amerika serikat untuk akhirnya mendapatkan tanggal interview. Nah disini proses deg deg-an dimulai. Karena kalau mau bikin visa amerika, kalian gak bisa bikin ini last minute atau di menit menit terakhir. Resikonya apa emang? Ya resikonya kalian ga bakalan dapat visa. Setelah saya mendapatkan tanggal dan jadwal wawancara, maka berangkatlah saya menuju kedutaan besar Amerika serikat di dekat stasiun Gambir Jakarta. Jangan terlambat! Yup.. saat kalian mendapatkan tanggal wawancara, disana juga sudah lengkap dengan waktu kita interview. Serta aturan untuk memasuki embassy. Well, ribet sih. tapi sungguh ini pengalaman yang menyenangkan. Semenyenangkan saat ternyata kita berhasil mendapatkan Visa tersebut, untuk 5 tahun periode. Hehehe. Cerita ini sudah pernah saya tulis sebelumnya di link ...

Visa On Arrival New Delhi

Pada tahun 2011, jauh sebelum keberangkatan ke Washington DC. Saya mendapatkan undangan kegiatan di New Delhi, India. Jujur ini pengalaman yang cukup menegangkan karena saya membuat Visa On Arrival. Artinya pembuatan visa dilakukan di airport di negara yang kita tuju. Untungnya pada saat itu saya bersama 2 orang teman yang sudah melakukan hal ini sebelumnya sehingga prosesnya cukup lancar. Beberapa tips penting adalah, selalu sedia Foto kopi Passport, foto kopi KTP dan KK, dan Surat Nikah bagi yang sudah menikah. Karena itu termasuk identity card yang cukup penting. Tips lainnya adalah, selalu sedia pas foto dalam dompet. Mulai dari ukuran 2 x 3  sampai 4 x 6 cm. Cari tahu berapa uang yang harus disiapkan untuk membuat visa on arrival dan dokumen apa yang dibutuhkan untuk diserahkan kepada petugas embassy di bandara. Oiya, pasang tampang santai tapi yakin, supaya lancar. Jangan lupa banyak banyak baca doa, supaya lancar.