Selasa, 08 Januari 2019

Keluarga Cemara dan Patriarki di Indonesia


Kaki keseleo adalah oleh oleh yang saya dapat seusai menonton film Keluarga Cemara bersama teman – teman CS Writers club. Saking semangatnya mendapat kesempatan nobar ini, saya sampai niat untuk membawa tripod untuk berfoto. Saya tidak ingin ada yang tertinggal dan tidak ada dalam frame. Seusai berfoto di dalam bioskop yang mana ternyata seisi studio sudah tinggal kami, maka semua bergegas pergi dan saya yang terburu – buru, membawa tripod sambil melihat hasil foto terjatuh di tangga turun. Beberapa detik saya sempat tidak bisa bergerak karena shock dan kesakitan. Lucunya ini persis dengan kondisi Abah yang juga terjatuh saat sedang bekerja di proyek. Jatuhnya abah lebih sadis, meskipun saya gak yakin apakah kaki abah patah atau hanya keseleo seperti saya.

Rasanya energy dan chemistry film ini begitu meresap sampai sampai adegan jatuh saya sandingkan. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh teman – teman termasuk saya saat di beberapa adegan kami naluriah meneteskan air mata atau tertawa akibat tingkah polah Ara yang sangat polos. Film keluarga Cemara layak direkomendasikan untuk di tonton bersama keluarga.

Kamis, 03 Januari 2019

I'm Gratefull still Alive!

Sepuluh tahun yang silam saya dihadapkan pada situasi yang tidak pernah saya duga. Terinfeksi HIV, suami meninggal, menjadi orangtua tunggal, mencari nafkah dan harus belajar menghadapi stigma dan diksriminasi. Sebuah kompilasi hidup yang sungguh menarik ya. Kalau ada yang tahu permen nano – nano, mungkin serupa itu macam rasanya. Bahkan sepertinya ada rasa pahit getir yang ga bisa saya ungkapkan sepanjang tahun 2009.

Hari ini sepuluh tahun sudah berlalu. Perjalanan panjang itu masih terus berlanjut. Saya masih diberi kesempatan oleh Gusti Allah Sang Maha Pencipta untuk bernafas lagi, meski ritme nya terus berubah. Mulai dari nafas santai penuh kenikmatan, nafas buru – buru karena dipaksa berlari mengejar sesuatu, nafas tercekat karena kebanyakan gak siap dengan setiap kejutan, sampai susah nafas karena sometimes life is hard, really fuckin hard. But this is it, 10 tahun terinfeksi HIV dan saya masih hidup.

Rabu, 02 Januari 2019

Catatan di Ruang Kreatif Bandung

Memasuki gerbang tahun 2019 saya dihadapkan pada situasi yang cukup menguras hati. Tadinya berencana untuk dituliskan di akhir tahun, tapi kok ya gak sanggup. Menunggu tenang terlebih dulu, menunggu reda, agar nantinya (semoga) isi dari tulisan ini tidak meledak – ledak. Tidak seperti air laut yang meluap kemudian merusak. Sebagai keterangan di awal, tulisan ini akan khusus berkisah tentang perjalanan saya di dalam sebuah ruang kreatif di kota Bandung. Yang mungkin untuk sebagian orang telah memahaminya, tapi demi kebaikan lebih banyak saya tidak akan menyebutkan beberapa nama.

Semuanya dimulai dari sebuah kesempatan yang diberikan oleh pemimpin terdahulu di kota ini kepada saya dan suami untuk ‘membantu’ mengembangkan konsep dan ide agar ruang kreatif ini menjadi ramai dan dapat digunakan sebagaimana mestinya. Saya kemudian mengelola social media milik ruang kreatif ini dan suami saya sebutlah menjadi coordinator kegiatan. Rasanya, bagi saya pribadi yang jauh dari dunia kreatif (bukan saya gak kreatif ya) merupakan sebuah kehormatan besar bisa mengisi ruang kosong. Bukan hanya mengisi, tapi diberi kesempatan untuk berinovasi.