Jumat, 25 April 2014

Alfie's Home oleh Richard Cohen

Halaman ini akan Merangkum twit Mbak Clara Ng tentang halaman sebuah buku yang sempat beredar di Path dan dihujat oleh banyak orang. Saya jujur sempat penasaran, kok ada buku seperti itu (karena hanya melihat satu halaman saja). maka melalui akun twitternya Mbak Clara Ng menjabarkan keseluruhan isi buku kepada followersnya.

Halaman buku ini bertebaran di soc media, bikin ortu histeris dan mengutuk buku ini sbg buku bejat

Menurutnya penting buat kita berfikir cerdas sebelum menghakimi. "Reality check please. Bagaimana bisa menilai seluruh buku kalau cuma baca 1 halaman aja? You left out lots of information... Aku mau posting seluruh hlmn buku di sini, so you tell me later who's corrupting young minds. Judulnya Alfie's Home oleh Richard Cohen."  Jadi Judul buku tersebut adalah Alfie's Home oleh Richard Cohen.

Ini adalah Cover buku tersebut
Halaman pertama. Ortu Alfie suka bertengkar. Ayahnya jarang di rumah


Halaman kedua. Ibu Alfie menangis. Alfie menjd sedih dan sendirian.


Halaman ketiga. Paman Peter datang ke rumah dan beri perhatian. 
Senang pegang-pegang dan bilang bahwa semuanya rahasia


Halaman empat. Ayah dan ibu makin sering bertengkar. 
Alfie makin besar dan sering diejek banci lo sama teman2nya


Halaman lima. Akhrnya Alfie ketemu konselor utk curhat. 
Konselor bilang Alfie bukan gay walaupun prnh dilecehkan



Halaman 6. Konselor jelasin mengalami pelecehan seksual di masa lalu oleh paman 
belum tentu menjadikan Alfie gay.


Halaman 7. Akhrnya Konselor menjelaskan kpd ortu ttg keadaan Alfie.

Halaman delapan. Ayah dan ibu Alfie sepakat untuk tidak berantem lagi. 
Dan Paman menyesal dengan perbuatannya



Halaman sembilan. Epilog. Alfie menghabiskan wktu bersama ayahnya lagi. The end.
 

Mbak Clara Menambahkan dalam twitternya..
"Berhari2 bacain orang2 mengutuk halaman itu dgn tema yg benar2 berbeda tanpa paham seluruh isi buku dan tujuan buku tsb dikampanyekan. So if u don't get enough hate in your life or misunderstanding, the good news is u can do it in social medias. Everyone will support u. Anybody who are dying to know the storyline got it right here. Tafsirannya, aku kembalikan ke para pembca semuanya..."

Kalau saya boleh berkomentar
1. Terkait berita satu halamanyang beredar di twitter atau Path atau sosial media channel lainnya, jangan langsung asal judge bahwa itu buruk atau bagus banget. cari tahu dulu..sumber dan kebenarannya.
2. setelah lihat semua halaman dari apa yang di posting mbak Clara, buku ini sebenernya bagus lho..
3. Pertama ini mengajarkan kepada orangtua yang sering bertengkar, bahwa efek dari pertengkaran akan membawa dampak yang tidak menyenangkan bagi anak yang menyaksikan hal ini. salah satunya, orangtua kemungkinan hanya akan fokus pada masalah mereka sendiri lantas lupa bahwa anaknya baru saja mendapatkan masalah dalam hidupnya. contoh dalam kasus ini adalah pelecehan seksual.
3. Orangtua harus berfikir ulang untuk membangun pola asuh yang baik buat anak. apa yang mereka lakukan akan direkam seumur hidup oleh sang anak dan bisa jadi, anak akan mencontoh. Misal : laki laki akan tumbuh menjadi anak yang kasar kepada perempuan, mencontoh ayahnya.
4. Untuk kasus Gay yang disorot dalam Buku ini, buku ini hanya memperjelas bahwa trauma yang diakibatkan pelecehan seksual bisa mengakibatkan trauma. namun belum tentu kemudian anak yang mendapatkan pelecehan seksual lantas menjadi Gay. Sebaiknya anak yang mendapatkan pelecehan mendapatkan penanganan yang baik. dari konselor ataupun orangtua. *(please correct me if I'm wrong)
5. Lalu, jangan lantas juga kemudian kita menjudge menjadi seorang Gay itu buruk. -- saya gak mau jelasin disini karena menjadi gay adalah pilihan dan menjadi identitas serta ketertarikan seksual yang bisa  saja terbawa secara lahiriah. its normal for me. *(Pembaca bebas berpendapat)
6. Buku semacam ini sebenarnya baik untuk anak, supaya kemudian anak belajar dan mau memahami bahwa komunikasi dengan orangtua akan menjadi jembatan yang sangat baik untuk belajar. baik bagi anak maupun bagi orangtua.

7. poin ini tambahan dari Mbakyu-ku Asti Widihastuti, setelah saya sharing tulisan saya di Facebook.
"bahwa pelaku pelecehan seksual gak selalu orang asing yang menakutkan, tapi orang dekat yang nampaknya tidak jahat dan berbahaya. bahkan sering terjadi pelaku adalah orang-orang dekat".
seperti ayah/ibu, paman/bibi, atau kakak..atau guru"

Yuk ah kita belajar lagi..untuk saling menghargai pendapat dan kebebasan berekspresi. oiya, jangan lupa bagi yang punya anak.. sering2 berkomunikasi dengan mereka sehingga anak tidak ragu untuk bercerita jika mendapatkan atau menemukan persoalan.




18 komentar:

  1. Thanks Infonya :) kemaren sempat pengen cari tapi ngga tau cari info buku itu dimana, gambarnya beredar banyak gak jelas judulnya di TL saya :))

    Disisi lain, berita kaya gini yang bikin makin gak percaya dan gak mau follow akun - akun fakta dsb, just like TV, they tweet what will sold out, mending kalo tweetnya dikasi sumber referensi, lah biasanya kaga :))

    BalasHapus
  2. Thanks infonya sangat bermanfaat.. IMHO bahwa bagi saya konteks buku ini sangat tidak Tepat bagaimana parental education digambarkan dengan kartun.. Dan yg kontentnya sangat bahaya jika di konsumsi anak anak yg belum bisa memfilter Apalagi jika hanya dibaca sebagian bagian saja..

    BalasHapus
  3. info yg bermanfaat. tapi buku ini lebih tepat untuk orangtua maupun yg akan punya anak.

    BalasHapus
  4. Poin 5. Saya tidak agree. Saya sampai dng saat ini tertarki kepada lawan jenis yg berbeda kelamin bukan saya memilih. Ini terjadi secara alamiah. Kalau banci lahir secara alamiah seperti kewanita wanitaan itu pun alamiah (saya kasihan dng kondisi mrk yg semacam ini). Maaf kalau memilih orientasi seksual dengan secara memilih kok rasanya mencari pembeneran. Bener buku ini dikemas dengan tampilan ditujukan untuk anak2. Apakah anak2 kecil sudah bisa mencerna muatannya secara bijaksana? Justru buku ini lebih pantas ditujukan bagi orang tua

    BalasHapus
  5. Bukunya bagus, tapi kayaknya tetap gak cocok buat anak2

    BalasHapus
  6. Para heteroseksual saya rasa tidak pernah memaksa gay jadi heteroseksual. Dan sebaliknya gay tidak bijak kalau memaksakan heteroseksual jadi gay. Rasa gula tidak akan menjadi asin walaupun kita memaksa untuk memilih agar gula itu asin.

    BalasHapus
  7. Menurut saya buku ini gak cocok utk anak2. Anak akan bertanya apa itu gay, di usia mereka sebaiknya content bukunya berisi hal2 budi pekerti. Menurut saya buku ini memperkenalkan prilaku gay yg dibungkus dgn cerita drama keluarga. Penulis membungkusnya begitu apik.

    BalasHapus
  8. Tetap harus ortu harus melakukan seleksi atas bacaan anak ... buat pembelajaran ortu aja...

    BalasHapus
  9. bentuk permasalahannya memang bagus sebenarnya diketahui dan dibahas orang tua dan orang dewasa, tetapi kalau dilihat kemasan bukunya, ini lebih ditujukan buat bacaan anak-anak, atau pegangan orang dewasa untuk anaknya. bagi saya, halaman yg memang banyak dimasalahkan tentang perilaku pamannya, akhirnya jika dibaca anak bisa jadi referensi tentang pedofilia. ini bahayanya. kalau tentang orientasi seksual, homoseksualitas, itu bukan masalah besar buat saya, karena itu menyangkut orientasi atau warna belaka. tapi dari sisi referensi perilaku pedofilianya yg lebih perlu diperhatikan, dan kalau ini jadi dibaca anak, tentu bukan sesuatu yang baik. karena juga, rasanya ini bukan untuk bacaan orang dewasa kemasannya.

    BalasHapus
  10. menurut saya buku ini tetap tidak layak buat anak, ini buku edukasi buat orang tua, emg pernah ada ya anak yg mengambil hikmah yang tersirat dari buku ini secara komperhensif atau kaya penulis? kalau anda belajar sosiologi jaman2 SMA, anak itu prosesnya masa IMITASI atau meniru, mereka ga ambil pusing dengan hikmah crita.

    BalasHapus
  11. yg jelas buku ini kan buatan luar. buat orang luar, hal semacam seks dalam bentuk kartun itu biasa. saya waktu SMA pernah dikasih tontonan kartun sama guru bahasa inggris saya tanpa subtitle. kemudian guru saya nanya, apa saya dan teman sekelas mengerti atau tidak jalan ceritanya. kami kebanyakan mengerti hanya sebatas melihat itu film kartun biasa. ternyata ceritanya bukan itu yg benar-benar jadi pokok tema utama. itu cerita mengenai gay. kata gurus saya, kartun dengan tema permasalahan seks itu udah biasa di luar sana dan bukan buat konsumsi anak. tayangnya pun di tengah malam. jadi ga heran kalo ada buku seperti ini, dengan kemasan untuk anak kecil tapi isinya untuk dikonsumsi orang dwasa.

    BalasHapus
  12. Menurut saya buku ini tidak cocok untuk diperlihatkan ke anak-anak meskipun kita dampingi. Cukup hanya dibaca orang tua dan orang tua yang menyampaikan ke anak dengan bahasa yang mudah dia cerna.
    Saya sangat yakin untuk di Indonesia akan banyak yang kontra.
    Soal sex education masih bisa kok tidak dengan buku yang sevulgar ini.
    Untuk poin 5 saya juga sangat tidak setuju.
    Mohon maaf hanya berpendapat :)

    BalasHapus
  13. Poin 5 saya kurang setuju deh, dalam ilmu kedokteran dan psikologi itu malah jadi kelainan. Untuk keseluruhan buku sebenarnya bagus setelah baca isinya, yah semacam sex education, tapi saya rasa ini tidak cocok ditujukan kepada anak-anak apalagi yang masih dibawah umur. Sex education memang baik jika disampaikan secara dini tapi alangkah baiknya jika si anak ini sudah bisa mencerna secara bijaksana yang tersirat dalam buku misalnya untuk remaja karena memang para remaja sangat perlu tau tentang sex education. Kalau cara pengajaran seperti dibuku Alfie's home yang notabene buku anak-anak sepertinya target sasarannya salah, kalau memang ini buku edukasi seperti ini harusnya disesuaikan dengan tugas perkembangan anak tidak semata-mata ini pokoknya buku anak-anak. Yah, it just my opinion, thanks for your information :)

    BalasHapus
  14. terima kasih atas informasinya
    dan jangan lupa kunjungi juga saya di obat stroke ringan

    BalasHapus
  15. Terima kasih sudah berbagi. Terlepas dari setuju atau tidak setuju, yang penting adalah bagaimana menghadapi suatu isu. Ini contoh proses pemahaman dan klarifikasi yang bagus.

    BalasHapus
  16. isinya cukup kontroversial buat di Indonesia. Semoga kita menaggapinya dgn dewasa dan kepala dingin.

    BalasHapus