Kamis, 10 Januari 2019

Catatan di Ruang Kreatif Part 2

Jika dalam tiga ratus enam puluh lima hari lamanya kita selalu diberi cobaan demi cobaan, maka paling tidak ada secuil rasa syukur yang hadir di tengah tengah masa masa paling sulit tersebut. Hal itu yang kemudian saya rasakan setelah membuat tulisan uneg - uneg Catatan di Ruang Kreatif Bandung. Lebih dari 3.000 orang yang membaca tulisan tersebut setelah saya posting di tanggal dua, dan makin banyak spekulasi bermunculan tentang nama tempat atau bahkan menduga - duga siapa orang orang yang berada di belakangnya. Atau mungkin banyak juga yang mempertanyakan saya. Ah kalau saya mah bukan siapa - siapa. You can easily track who am I by read all my blog and follow my social media account. Tapi percayalah, tulisan tulisan saya ga pernah bermuatan buruk dan bertujuan untuk menjatuhkan pihak pihak tertentu. Karena kalau bicara jatuh menjatuhkan, tiga puluh empat orang yang setahun kemarin membangun ruang tersebut sudah berhasil dijatuhkan dan dibersihkan.

Waduh paragraf pertama nampaknya saya cukup emosi hahaha. Kalemin dulu ahh hahaha, padahal saya lebih mau membahas greatful things yang saya dapat selama saya berada di ruang kreatif tersebut. Supaya seimbang memberikan perspektif bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah sama sekali dengan ruang nya.

Banyak orang yang tahu atau malah ga tahu bahwa selama sembilan tahun terakhir saya hanya berkutat di isu HIV dan perempuan. Menjadi orang yang paling vokal dan lantang untuk menyuarakan ketertindasan kelompok - kelompok yang di marginalkan. Hal ini membuat saya menjadi super excited karena berada di ruang ini membuat saya membuka wawasan berfikir saya bahwa manusia itu punya berbagai macam kemampuan, kreatifitas dan keunikan. Di tempat ini saya ketemu banyak banget orang - orang 'gila' yang saya ga habis pikir bisa membuat banyak hal kreatif. 

Meskipun saya sudah sering melihatnya di televisi, majalah dan sosial media. tapi di ruang ini semua terasa sangat nyata. Ada banyak kelompok musisi dari tradisional sampai pop modern yang lihai membentuk nada dan suara yang harmoni dan inovatif. Bahkan kedua genre tersebut dapat di kolaborasikan. Bertemu dengan orang - orang yang jago banget gambar mulai dari ilustrasi langsung menggunakan tangan, sampai membuatnya dalam versi digital dan animasi. Bukan hanya itu, saya merasa bahwa kreatifitas itu sesungguhnya gak bisa di kotak - kotakan dalam sektor - sektor tertentu. Di klasifikasikan dan tidak dapat dilebur. Anggapan itu salah dan berubah setelah ruang ini membuka mata saya si awam, bahwa kreatifitas itu sama sekali ga ada batasnya.

Selain berkesempatan untuk melihat langsung banyak proses kreatif, ternyata saya juga bisa belajar langsung dengan para pakarnya. Dari mulai hal yang saya suka dan ketahui sampai dengan hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya seperti akhirnya bisa memainkan karinding setelah ada kegiatan bersama Man Jasad dalam acara Sampurasun kreatif. Bisa belajar bisinis dan inovasi di bidang kuliner dengan banyak pakar, dapat belajar tehnik kriya dari berbagai macam bahan. Dapat banyak mengakses buku dan literasi serta lebih dekat dengan orang - orang di dalam circle nya.

Yang paling saya senang adalah saya bisa bertemu dengan begitu banyak idola saya dari bidang kreatif. Dan duduk bersama dengan mereka membuat saya sadar bahwa, orang Bandung teh loyalitasnya edan. Mereka mau bener - bener berdedikasi untuk kreatifitas Bandung, untuk komunitas dan lebih banyak orang. Keberadaan mereka makin meyakinkan saya bahwa saat itu sudah tidak ada sekat antara pemerintah dan komunitas. Mulai dari Kang Kimung, Dewi Lestari, Mocca, teman teman komunitas kreatif seperti Yayasan Biruku Indonesia, Teman tanpa Batas, Evolution Breaker dan Bandung Musical. Kalau bisa di breakdown, mungkin daftar itu saja sudah menjadi satu artikel panjang. Dengan bekerja di ruang kreatif ini saya juga merasa bangga karena membantu mengurus acara - acara super keren yang sebelumnya saya sempat meragu bahwa kemampuan saya tidak ada di ranah kreatif. Tapi teman - teman komunitas di ruang ini membuat saya yakin dan percaya bahwa pada dasarnya semua orang kreatif. 
Namun, dibalik semua kesenangan dan rasa syukur yang juga saya dapat di ruan tersebut. Saya sempat sedih juga lho saat tulisan saya akhirnya kemana - kemana dan dibaca oleh semua orang. Saya yang (Pernah) Merasa Bangga dengan upaya pemerintah, akhirnya kecewa lagi. Karena saat pihak pemerintah membaca tulisan saya mereka malah bilang "Kami menyayangkan kenapa sampai harus viral" Ahh, come on. Sampai hari kedua tulisan ini dipublish tulisan saya cuma dibaca 24 orang! receh cuy tulisan gue mah. Link yang saya twit kan saja tidak di retweet oleh siapapun. Hahaha kasian ya. Karena sejak awal niat saya tidaka untuk menjatuhkan namun menyampaikan fakta sembari curhat, maka saya menjaga semua pihak tidak saya sebut namanya. Kalau saya mau berantem, ngapain susah.. mendingan saya telfon wartawan dan publish langsung semua. But I'm not doing that! Hanya alam semesta yang berpihak pada saya di kemudian hari dengan tersebarnya tulisan itu

Saya pikir, tulisan saya dapat menjadi masukan yang berharga untuk kota ini jangan malah dijatuhkan balik dengan menyesali viralnya tulisan ini. Saat ruang tersebut mengeliminasi teman - teman saya, rasanya tidak ada penyesalan kan dari pihak pemerintah. Jadi sekali lagi jangan salah sangka yaa para pembacaku yang budiman. Kemarin saya baru saja menolak wawancara dari beberapa media, karena sejak awal juga saya gak mau ribut. Kami sudah menghadap pihak pihak yang sempat saya mention dan menjelaskan semua kenyataan yang terjadi di lapangan. Jika memang semua yang saya sampaikan salah, mangga silahkan dibuktikan. I have people who can be my witness.

Tapi yasudahlah its been 10 days after we leave that place. And I am okay, I hope the rest of my friend too. Dan saya harap tulisan saya sebelumnya tidak disimpulkan sebagai sebuah bentuk kebencian, mari kita sama sama introspeksi diri supaya tida ada dustaaa diantara kitaaaa 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar