Rabu, 10 Juni 2020

Another Mood Breakdown Phase

Kemarin aku merasa tidak enak badan. Padahal aku makan cukup teratur, air putih, tidur cukup dan rasanya tidak kurang satu apapun. Tapi rupanya badanku tidak bersepakat dengan rutinitasku. Semacam ada hal yang hilang setelah tiga bulan kita semua di rumah saja. Yup, sebelumnya ada banyak kegiatan yang memang membuat saya harus travelling ke kota lain. Menjalankan beberapa kegiatan yang rasanya cukup membuat diri saya sehat secara mental. 

Saya kemudian coba menganalisis perasaan dan pikiran saya ke belakang. Apakah ada fase yang terlewat sampai saya merasakan kembali mood breakdown. Saya kemudian menyimpulkan bahwa saya mengalami mood breakdown yang tentunya sudah saya tahu akan membuat tubuh saya otomatis sakit. Karena saya mengijinkan diri saya mengalami penurunan. 

Seharian saya merasa mengigil dan badan lemas. Setelah berbuka puasa (membayar hutang puasa), saya memilih untuk berdiam di kamar sambil menonton serial di netflix. Saya pikir setelah makan malam tubuh saya akan membaik tapi ternyata tidak. Semakin malam saya semakin kedinginan padahal Febby yang tidur satu kamar dan satu kasur bersama saya tidak merasakan hal yang sama. Kemarin malam saya tidur menggunakan sweater dan selimut untuk menutupi setengah tubuh saya. Tidak, rasanya tidak sakit seperti orang sakit. Rasanya hanya lemas, tidak bertenaga dan seperti kehilangan semangat. 

Pagi harinya saat membuka mata saya menyampaikan kepada diri saya bahwa tidak apa apa kalau memang saya kembali jenuh. Rasanya bagus saat saya mengetahui bahwa kemarin saya mulai kehilangan spirit untuk melihat esok. Sehingga hari ini saya kemudian belajar berdamai dengan hal itu. Dibantu oleh suami, pagi hari dia sudah membelikan saya sarapan dan tentunya dengan bersemangat saya menghabiskan sarapan tersebut. Sarapan yang agak terlambat itu membuat saya masih agak kenyang setelah menghabiskan salah satu series kesukaan saya di netflix saya memutuskan untuk tidur. Sebelumnya, suami memaksa saya untuk minum satu sendok madu hitam yang ternyata sangat pahit tapi ternyat aitu membuat tidur saya sangat nyenyak.

Setelah terbangun saya memutuskan untuk mandi dengan menggunakan air hangat dan garam mandi dari salah seorang sahabat. Surprisingly, mandi membuat saya merasa jauh lebih baik. Ditambah lagi, semangkok bakso menunggu untuk saya santap seusai mandi.

Hari ini saya kembali belajar bahwa mentalitas saya tidak akan selalu tangguh ataupun rapuh. Kedua kemungkinan tersebut dapat bergantian hadir dan sayalah yang memiliki kendali untuk memperbaiki kondisinya. Dan yang paling penting, saya mengijinkan diri saya untuk berhenti dan mengenali apa yang sedang terjadi. Saat menulis ini di blog, saya belum 100% pulih. Tapi saya merasa jauh lebih baik. Terima kasih sudah membaca tulisan hari ini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar