Selasa, 02 Juni 2020

Cinta yang Mengubah Hidupku Part #20

Sehari sebelum aku memutuskan untuk datang ke polsek, aku berfikir keras tentang larangan yang Abet berikan. Entah aku harus mendengarkannya atau mengikuti kata hatiku. Hubungan kami selama tiga tahun ke belakang tidaklah mudah. Semua kejadian yang telah terjadi di waktu lampau tentunya menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Tapi Abet adalah orang yang sangat keras hati. Malamnya aku menuliskan surat untuk Abet. Surat yang singkat dan rasanya penuh dengan kepolosanku.

Sesungguhnya aku bukan orang yang pandai berkata kata atau menulis surat. Terlebih lagi untuk Abet yang justru selalu punya seribu kata untuk menyampaikan isi kepalanya. Banyak penghakiman yang bercokol di kepalaku jauh sebelum menulis surat ini. Aku tau Abet tidak akan senang membacanya.

Dear Abet,
It was 24th day without you. How are you my dear? Mudah –mudahan kamu selalu dalam kondisi yang baik. Mama akhirnya menyampaikan semua kejadiannya. Aku minta maaf. Mungkin sudah terlambat untuk mengatakan ini, tapi harusnya sejak awal aku bilang sama kamu kalau kamu salah, kamu bikin kesalahan besar.
Tapi aku memilih untuk gak melakukan itu. Aku merasa useless, aku nyesel banget. Apa yang terjadi sekarang, kamu harus menerima konsekuensinya atas semua kesalahan yang sudah kamu buat. Dan aku janji akan selalu mendukungmu dan mendoakanmu dari sini. Please jangan ulang kesalahan yang sama.
 Insyaallah aku akan besuk kamu lagi, libur kuliah Cuma hari selasa, sabtu dan minggu. Jadi aku akan coba cari waktu yang tepat untuk samperin kamu. I really miss you.
Urs.

Setelah aku keluar dari polsek hanya dengan melihat tangannya, aku menyesal menulis surat sebiasa itu. Aku sama sekali tidak berempati pada kondisinya. Aku tidak tahu bagaimana responnya. Perasaanku tidak karuan.

Baca cerita sebelumnya di sini

Aku kemudian menyampaikan kepada kakak dan ibunya bahwa Sabtu kemarin aku telah datang ke polsek dan tidak berhasil menemui Abet. Aku juga meminta kepada mereka untuk menanyakan bagaimana perasaannya saat aku datang, apakah dia menyukai makanan makanan yang kuberikan? Apakah dia membaca suratku? Uni mengiyakan permintaanku. Dia bilang kamis di minggu selanjutnya dia akan memastikan apakah Abet telah menerima kirimanku.

Harap bercampur cemas menghantuiku. Bersama Abet itu sangat rumit, dia orang yang tidak mudah untuk dimengerti tapi aku menginginkannya begitu dalam.

Ah kamis, datanglah segera.

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar