Jumat, 26 September 2014

Trip To Belitong Part #7


Kamis 25 September 2014 – Day III

Pagi ini Saya sibuk menyenandungkan lagu yang tidak asing ditelinga banyak orang..

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
Selamanya...”

Senandung itu tidak terdengar karena saya menyanyikannya hanya dalam hati. Maklum saya bukan penyanyi. Hanya ibu rumah tangga dan penggiat isu HIV. Kalau saya ntanyi bahaya bisa membuat banyak orang sakit perut. Kembali ke lagu tadi. Kenapa ya kira kira saya bernyanyi nyari riang.. itu karena hari ini rombongan kami akan menuju Belitung Timur. Tempat dimana kisah tentang Andrea hirata serta masa kecilnya, menjadi inspirasi bukan hanya bagi masyarakat Indonesia. Namun bagi banyak orang diseluruh penjuru dunia.

Selesai sarapan di restoran hotel. Kami serombongan langsung menuju mobil dan siap untuk menikmati perjalanan kami menuju belitung timur. Aston hotel di Tanjung Pandam tempat kami menginap berada di belitung Barat. Dan jarak dari sini menuju belitung Timur sekitar 2 jam menggunakan mobil. Bukan jarak yang pendek untuk ditempuh. Untungnya, disini tidak ada macet seperti di Jakarta atau bandung. Selain daripada itu, di sisi kanan dan kiri kami melihat pemandangan indah dan hikau, banyak sekali pepohonan dan perkebunan terbentang luas. Selama perjalanan kami menghabiskan waktu di mobil dengan bercengkrama, mendengarkan musik sambil sesekali mendengar cerita pak yadi sang tour guide.

Tak terasa kami tiba di destinasi pertama kami. Museum kata, yang dibangun dan dikembangkan oleh sang legenda, Andrea Hirata. Bagi siapapun yang gemar menulis, hobi membaca dan mencintai sastra pasti akan sangat happy berada di tempat ini. Kenapa? Karena selain kalian bisa melihat dan menyaksikan langsung bagaimana Andrea hirata mengawali laskar pelangi dan memberikan pengaruh serta atensi yang begitu besar bagi dunia sastra di indonesia, kalian juga bisa belajar bahwa ada banyak sekali penulis penulis kenamaan yang saya juga gak tau sebelumnya, namun Andre Hirata memberikan kesempatan bagi kami untuk belajar darinya.















Museum ini sangatlah sederhana. Bangunannya tidak mewah. Tidak menghilangkan kesan rakyat dan belitung. Dindingnya hanya terdiri dari batu bata dan triplek yang di cat di beberapa bagian. Atapnya hanya menggunakan seng, karena di Belitung memang semua rumah dan bangunan tidak ada yang menggunakan genting. Lalu, kalian tidak akan menjumpai keramik ubin sebagai tempat berpijak. Melainkan hanya semen yang dirapihkan. Di banyak sudut terdapat banyak sepeda onthel. Konon katanya sepeda itu milik Andrea Hirata, yang kita kenal sebagai ikal panggilan kecilnya. Terdapat juga banyak tulisan mengenai Laskar Pelangi. Bagaimana Andrea Hirata mengawali tulisannya.

Saya tertegun melihat sebuah Tulisan yang dikutip dari buku ketiga Andre hirata “Edensor” kalimatnya sangat dalam dan penuh makna, begini kira kira..

Aku ingin mendaki puncak tantangan
menerjang batu granit kesulitan
Menggoda mara bahaya
Dan memecahkan misteri dengan sains
Aku ingin menghirup berupa rupa pengalaman,
Lalu terjun bebas menyelami labirin lika liku hidup
yang ujungnya tak dapat disangka
Aku mendamba kehidupan
Dengan kemungkinan – kemungkinan yang bereaksi satu sama lain
Seperti molekul uranium, meletup tak terduga, menyerap,
mengikat, mengganda, berkembang terurai dan berpencar ke arah yang mengejutkan..

aku ingin ke tempat tempat yang jauh menjumpai beragam bahasa dan orang  orang asing,
Aku ingin berkelana menemukan arahku  dengan mambaca bintang gemintang..

Aku ingin mengarungi padang dan gurun – gurun
Aku ingin melepuh terbakar matahari
Limbung dihantam angin
Menciut dicengkram dingin
Aku ingin kehidupan yang menggetarkan
Penuh dengan penaklukan
Aku ingin hidup
Ingin merasakan sari pati hidup

Dari buku ketiga Tetralogi Laskar Pelangi “edensor”,
Terima kasih Andrea Hirata, tulisan ini memaknai kehidup yang memang nyata nyata tidaklah mudah, namun sebagai manusia kita tidak boleh  pantang untuk memiliki mimpi, bercita cita setinggi angkasa, bahkan belajar untuk menyesuaikan dengan ganasnya semesata dan indahnya alam. 

This journey is continue.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar