Selasa, 02 Juni 2015

30 Hari Pertama Pengobatan Lini 2 #Day23

sumber : tummytime.onslow.org
You belong To Me, I belong To You / 30/05/2015
Malam ini sebelum tidur, entah kenapa kami membicarakan persoalan yang hampir jarang kami bicarakan. Entah kenapa.. ya entah kenapa. Saya tiba tiba bertanya kepada suami, "apakah kamu ingin kita memiliki anak lagi?" -pertanyaan yang tiba tiba terlontar dari mulut saya tersebut merubah raut wajah suami saya. Dia tersenyum lalu mengangguk (seperti malu) tapi saya tahu dari anggukannya dia mau. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah percakapan mengenai kondisi kesehatan saya. "tapi kamu masih naik turun gini kondisinya, kalau gitu gimana?" tanyanya kembali pada saya. Lalu saya balas tersenyum dan bilang, "iya makanya kan kita harus tunggu hasil viral load saya undetectable dulu, lalu kita cek yang lain lain. harus diperhitungkan masak masak pengeluaran untuk pemeriksaan, dan kita juga harus evaluasi kembali apakah kita sudah siap untuk punya anak lagi." jawab saya panjang. lalu dia memeluk saya erat. Hati saya kecil mendengar jawaban yang keluar dari mulut saya barusan. proses yang panjang harus kami hadapi dan lewati jika benar benar ingin memiliki anak. kami benar benar ingin memiliki anak lagi. tapi kami harus bersabar. Dari pelukannya, suami saya tahu dan paham betul, saya sedang dalam proses pemulihan kesehatan. jangankan untuk hamil, berbadan satu saja, kadang kesehatan saya tidak stabil.

Sebagai seorang perempuan yang hidup dengan HIV. Saya sepenuhnya sadar, bahwa memiliki anak dengan kondisi seperti ini membutuhkan kesabaran dan perjuangan. Bukan hanya sekedar persiapan mental, atau persiapan materiil. ada hal hal detail yang harus dengan hati hati kami pertimbangkan. Bukan tidak mungkin. begitu banyak teman teman ODHA, yang telah mengikuti program pencegahan HIV dari orang tua ke anak, lantas berhasil, memiliki keturunan yang terbebas dari virus HIV. Saya tahu betul setiap detailnya, apa yang harus kami persiapkan. Disamping itu saya juga beruntung dipertemukan oleh Tuhan, suami yang tidak hidup dengan HIV. ya, suami saya bukan ODHA. Sehingga, akan jauh lebih mudah dalam perencanaannya.

Saya kemudian teringat saat kami pertama kali bertemu.
Saya katakan padanya bahwa saya seorang perempuan HIV positif, apakah kamu yakin bisa mencintai saya, mendampingi dan menjaga saya. Saya kok ya gak yakin ya. Batin saya dalam hati. dulu sekali. Tapi disinilah kami sekarang, pria sederhana yang tidak setampan David Beckham ini memiliki hati yang tampan dan rupawan. Hati yang tulus ikhlas mendampingi dan menjaga saya serta putri kecil saya hingga hari ini. dia membuktikan janjinya kepada kami, untuk setia, apapun yang terjadi. HIV bukan penghalang baginya untuk mencintai. Dia memahami betul, pencegahan dan penularan HIV seperti apa. Dia pun rela terus menggunakan kondom selama berhubungan intim, selama kami belum siap untuk merencanakan kehamilan. Dia pun rela melakukan pemeriksaan HIV secara rutin, demi menjaga kesehatan dirinya.

Dan malam ini, dalam pelukannya, di hari ke 23 terapi ARV lini ke 2 saya, di tahun ke 6 saya hidup dengan HIV, dia tetap setia dengan janji dan cintanya. Dan bila saatnya nanti, saat seluruh persyaratan medis sudah saya penuhi dan kami siap memiliki keturunan, saya berdoa kepada Tuhan agar kami diberikan kekuatan untuk tetap selalu bersama dalam memelihara kepercayaan yang Dia berikan. Mungkin bukan hari ini atau esok yu.. bisik saya pada diri sendiri. But the day will come, keep your spirit ya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar