Selasa, 27 September 2016

Hamil dan Positive HIV, berbahayakah?

Beberapa teman cukup terkejut mendengar kabar kehamilan saya. Jika mereka yang berasal dari circle HIV tentunya gak akan begitu kaget, karena kebanyakan dari mereka pasti sudah sangat paham tentang issue ini. Tapi bagi beberapa orang (bahkan) termasuk beberapa orang dari keluarga dan teman dekat, banyak sekali yang menanyakan. "Yu, elu kan HIV ya.. emangnya gak bahaya gitu.. Hamil? Nanti bayinya ketularan gak?". Respon tercepat yang saya berikan senyum, kenapa? Karena saya seneng banget ada yang bertanya seperti itu. it means, ada orang lain yang concern dengan persoalan ini dan ingin tahu. Dan kita harus menghargai lho, jika ada mereka yang bertanya.

Nah, untuk menjawab pertanyaan itu.. saya mau sambil nulis di blog aja. Biar teman - teman yang lain juga bisa pada baca dan memahami situasinya. Eits, tulisan ini bukan cuma buat pembaca setia blog saya aja ya (kayak ada ajaaaa gituuuu, ih pede banget hahaha), melainkan untuk teman - teman ODHA lainnya yang (mudah-mudahan) terinspirasi untuk juga punya keturunan yang sehat, dan bebas HIV.

So lets back to the question, Hamil dan Positive HIV, berbahayakah?
Pertanyaan ini dulu saya ajukan berkali - kali pada begitu banyak dokter dan teman yang saya temui saat pertama kali tahu bahwa saya terinfeksi HIV 7 tahun lalu. Jawabannya beragam dan beda-beda. Keragaman jawaban tersebut membuat saya beritikad untuk mencari jawabannya secara tepat dan benar. Sampai saya mendapat jawaban dari seorang dokter "Bolehhh banget Ayu. Asalkan..." Nah, setelah kata asalkan tersebut, saya kemudian belajar memahami serta mempraktikannya.

Hal paling utama yang harus dilakukan adalah Memiliki Pasangan yang Tahu Kondisi HIV kita. Yaa, susah juga yaa, kalo ga ada pasangannya, gimana mau ehem.. hamil. Kemudian, kenapa pasangan kita harus tahu kalau kita HIV. Well, buat saya secara pribadi sangat tidak adil jika kita berbohong kepada pasangan mengenai kondisi kesehatan kita. Toh, kalau dia benar menyayangi kita, semestinya dia mau untuk memahami situasi tersebut. Kita bisa mulai menyusun rencana - rencana jangka panjang bersama-sama.

Singkat cerita tentang saya dan suami, saya bertemu dengan suami sekitar tahun 2012. Suami saya bukan ODHA, dan sejak awal saya mengkomunikasikan persoalan kesehatan padanya. Saya tekankan bahwa, hidup dengan mereka yang terinfeksi HIV itu gak menakutkan, saya juga menceritakan hal - hal penting seperti bagaimana pencegahan penularannya, cara menularnya, apa saja yang bisa menularkan, serta apa yang biasa saya lakukan setiap bulannya, bagaimana kami menjaga kesehatan dan bagaimana nantinya jika kita menikah kita juga tetap bisa memiliki anak dan dia tidak akan tertular.  Banyak sekali pasangan yang masih ragu untuk mengkomunikasikan hal ini, dan berujung pada pertengkaran.. atau salah satu dari pasangannya akhirnya terinfeksi HIV. Sedih kan? padahal bisa dicegah lho.


Hal selanjutnya yang sangat penting adalah, Jika kamu Mengetahui Terinfeksi HIV Segera Konsumsi ARV. Meski ada beberapa rumah sakit dan dokter yang masih enggan memberikan ARV dalam kondisi pasien yang masih sangat baik. Namun, kalau saya sih prinsipnya seperti itu.. Itu hak kita untuk mendapatkan pengobatan. Kenapa ARV menjadi sangat penting? Karena Anti Retroviral atau ARV,  dapat menekan jumlah pertumbuhan virus HIV, dan mengurangi resiko penularan kepada bayi dan pasangan kita.

Ini sudah tahun ke 7 saya mengkonsumsi ARV. Perjalanan pengobatan saya tidak selalu mulus, tentu ada bosannya, ada badungnya yakni telat telat minum obat.. dan saya mendapatkan efek jera karena itu. Saya sempat merasakan nikmatnya kembali sehat setelah masa pemulihan yang lumayan panjang, namun kembali drop karena terlalu cuek pada diri sendiri. di 2 tahun terakhir, saya sungguh - sungguh untuk menebus semua, dan ingin sehat. Saya tuntaskan  pengobatan Hepatitis C saya di akhir 2015 lalu. Dan karena niat ingin memiliki anak di tahun ini semakin kuat, saya sangat bersungguh - sungguh menjalani pengobatan ARV. Those achievement saya rasakan saat CD4 saya ada di angka 1.131 dan Viral Load undetectable. Oh rasanya luar biasa kawan - kawan, Blessfull!


Mengetahui punya pasangan dan kondisimu prima, lalu apakah boleh langsung hamil? Eits, tunggu dulu. Sebaiknya, sebelum itu konsultasikan kembali semua persiapan tersebut dengan dokter yang menangani persoalan HIV mu. Sepakati juga dengan pasangan tentang rencana memiliki anak. Lalu berhubungan pada masa subur, supaya bisa langsung hamil. Karena dengan persoalan HIV yang kita miliki, alangkah baiknya semua langkah kita lebih direncanakan. Karena ada hak orang lain yang juga harus kita pertimbangkan baik - baik. Tentunya kita tidak ingin bayi yang dikandung tertular HIV toh? Lho memangnya bisa, bagaimana bisa?

Jadi, saat kita terinfeksi HIV dan ingin punya anak. Kita harus memenuhi beberapa kriteria, seperti jumlah kekebalan tubuh (CD4) diatas 350 /30% dan Jumlah Virus dalam tubuh (Viral Load), tidak terdeteksi. Sebaiknya, ibu juga tidak memiliki infeksi menular seksual (IMS) dan TORCH (Toksoplasma, Rubella, CMV dan Hepatitis). Kita juga wajib menjalani terapi ARV, sebelum kehamilan, selama kehamilan, sesudah persalinan.. a.k.a minum terus ARV nyaaa gak boleh bolong - bolong, apalagi sampe putus gak minum obat. Selama kehamilan, ibu wajib secara rutin memeriksakan kandungannya ke dokter, sama seperti ibu hamil lainnya.. minum vitamin.. susu kehamilan dan lain sebagainya. Menjelang persalinan nanti, pemeriksaan yang dilakukan di awal tadi, diulang lagi.. kita wajib tahu berapa jumlah CD4 kita sekarang dan Jumlah virus dalam darah. Kita bisa punya pilihan untuk melahirkan secara normal ataupun cesar, ataupun memutuskan untuk memberi ASI atau Susu Formula saja. Itu boleh banget, tapii.. lagi - lagi semua harus direncanakan dengan sangat baik yaa.

Nah, ini sangat sederhana Jika mau melahirkan normal atau Cesar, Ibu wajib dalam kondisi yang sama - sama baik. Salah satu ukurannyanya adalah adalah "jumlah kekebalan tubuh (CD4) diatas 350 /30% dan Jumlah Virus dalam tubuh (Viral Load), tidak terdeteksi, tidak sedang dalam fase AIDS atau memiliki begitu banyak infeksi dalam tubuh". Pastikan juga kita berkomunikasi dengan dokter, mengenai pilihan kita tersebut. karena ada beberapa rumah sakit yang punya SOP (Standart Operasional Prosedur), "Pokoknya kalau ibune HIV, cesar aja.. trs gak boleh ASI.. padahal kan gak gitu cinn. Kalau kita mampu memenuhi syarat dan aturan, aman kok. Yang penting semua terencana dengan baik, dan keep consult with doctor.

Yang selanjutnya, apakah kita memberikan ASI atau PASI? both are okay loh. Asalkaannn.. 

1. Kalau pilih ASI - Wajib Asi eksklusif, gak boleh dicampur - campur sufor, Tahu bagaimana cara pemberian ASI yang benar (letak mulut bayi dan tubuh ibu, dll sebagainya), kemudian bayi wajib mendapatkan Profilaksis ARV, selama masa diberikan ASI tersebut. Eits.. kasih ASI nya gak boleh lama - lama yah.. (harus legowooo pisannn), maksimal 6 bulan sih, gak boleh lebih.

2. Sedangkan kalau ibu memilih untuk memberikan PASI, kita wajib memenuhi prinsip AFASS. Apa ituuu? Ini bocorannya dari website IDAI, di link ini Air Susu Ibu dan Hak Bayi.

Acceptable (diterima)Ibu tidak mempunyai hambatan sosial budaya untuk memilih makanan alternatif atau tidak ada rasa takut akan stigma dan diskriminasi

Feasible (terlaksanakan)Ibu atau keluarga punya cukup waktu, pengetahuan, ketrampilan dan lainnya untuk menyiapkan dan memberikan makan pada bayinya. Ibu mendapat dukungan bila ada tekanan keluarga, masyarakat dan sosial.
Affordable (terjangkau) - Ibu dan keluarga mampu melakukan pembelian, pembuatan, dan penyiapan makanan pilihan, termasuk bahan makanan, bahan bakar dan air bersih. Tidak menggunakan dana untuk kesehatan dan gizi keluarga.
Sustainable (bersinambungan)Makanan pengganti yang diberikan kepada bayi harus setiap hari dan atau malam (tiap 3 jam) dan dalam bentuk segar. Distribusi makanan tersebut harus berkelanjutan sepanjang bayi membutuhkan.
Safe (aman, bersih berkualitas) - Makanan pengganti harus disimpan secara benar, hygienis dengan kuantitas nutrisi yang adekuat.
Selain harus memenuhi Afass, bayi juga wajib tetap diberikan profilaksis ARV selama 6 minggu lamanya. Profilaksis ARV ini fungsinya sebagai pencegahan.
and the last one, Bagaimana kita tahu bayi kita bebas dari HIV, Kapan pemeriksaan dilakukan? Well, basically.. jika semua syarat dan ketentuan dijalani dengan patuh, anak tentunya akan bebas dari virus HIV. Saya aja sampe terkagum - kagum, karena  begitu banyak sahabat yang punya baby free from HIV, padahal ibuknya positif. Tahapannya adalah, Bayi akan diperiksa PCR RNA pada usia 4 minggu dan 6 bulan, lalu dituntaskan dengan pemeriksaan Serologi HIV di usia 18 bulan. Believe me.. your baby will be fine. Bayi nya (insyaallah) akan negatif, tidak terinfeksi HIV. 
Wah panjang yaah tulisannya, saya sebenernya nulis ini sambil terus reminder untuk diri sendiri bahwa sekarang harus lebih makin menjaga kesehatan.. harus terus minum obat.. harus makan yang banyak.. karena mahluk kecil di perut ini, akan menjadi salah satu anugrah terhebat dari Tuhan. 
See you in my next curhat ya gaess, doakan kami sehat selalu! Lafff! 




1 komentar:

  1. Sehat terus Mbak Ayu... Tulisannya nambah wawasan banget :)

    BalasHapus