Ibu Dewinta duduk di hadapanku, ia menggunakan jilbab putih bermotif bunga. Ini pertemuan pertama kami, tapi kunjungan keduaku. Pagi itu kami membuka sesi dengan aku yang kembali bercerita tentang apa yang terjadi padaku dua tahun silam. Cerita yang tak pernah mudah, aku kembali menangis sesenggukan. Tissue yang terletak di atas meja menjadi penolong, ada kalanya aku ingin tidak terlihat selemah ini. Menangisi hidupku atau kematian anakku, it feels painfull. Tapi tidak, aku ingin berhenti dari rasa sakit ini.
Kini di hadapanku berdiri sebuah bangunan, tidak kokoh tapi juga bukan rumah tua. Ah ini rumah kedua orangtuaku. Rumah ini meninggalkan banyak kenangan manis dan pahit, tempatku tumbuh menjadi diriku yang sekarang. Tempat di mana aku jatuh cinta pertama kali pada Abet, Malika tumbuh besar dan menikmati masa kanak – kanaknya, tempat di mana aku menjadi diriku sendiri.