Senin, 09 Maret 2015

Bahaya Tuberculosis Pada Pengidap HIV

Kuman TBC (Sumber : Google.com)
Istilah Tuberculosis atau TBC sudah akrab sekali di telinga sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Ibu saya dulu mengidap TBC, dan kami sekeluarga merasakan betul perjuangannya untuk pulih dari kuman yang menyerang paru parunya tersebut. Hingga akhirnya sekitar 10 tahun kemudian, saya juga merasakan hal yang sama, mengidap Tuberculosis di tahun 2009. Selain dikarenakan Kuman TBC yang dengan begitu mudah bisa menularkan kepada orang lain melalui udara, saya yang di tahun 2009 didiagnosa dokter memiliki virus HIV di dalam tubuh pun menjadi lebih rentan ketimbang orang orang yang tanpa virus HIV di tubuhnya. Proteksi dalam tubuh yang lemah karena terserang virus HIV, membuat saya mengidap TBC, dan menjalani pengobatan selama 12 bulan lamanya. Nah, kali ini saya akan membagi cerita tentang bahaya Tuberculosis yang mengintai dimana saja, khususnya pada pengidap HIV.

Kuman Tuberculosis jauh lebih menular antar manusia, ketimbang Virus HIV. Yakni, melalui udara, bila ada seseorang yang memiliki spultum/dahak mengandung TBC, kemudian Batuk, membuang ludah atau bersin.  Khususnya mereka yang berada di daerah padat penduduk, dengan kondisi lingkungan yang kotor, sanitasi rumah yang tidak tepat serta saluran pembuangan air yang tidak terpelihara. Saat ibu mengidap TBC, kami sekeluarga tidak menjauhi beliau. Namun kami lebih meningkatkan kualitas kebersihan rumah dan sekitar pekarangan rumah kami. Memastikan Ibu meminum obat, dan menjalani perawatan serta pengobatan yang telah beliau rencanakan dengan dokter hingga tuntas. Sehingga, keluarga dan orang orang yang tinggal satu atap dengannya tidak tertular TBC. Sehingga pengidap TBC tidak seharusnya dijauhi atau ditakuti, namun keluarga serta masyarakat harus bahu membahu berintrospeksi lingkungan tempat tinggalnya, sehingga tidak ada lagi kasus baru TBC.

Beberapa saat lalu, saya dengan 39 orang lainnya yang memiliki titel 'Blogger', mengikuti sebuah kegiatan di Bandung. Kegiatan ini diadakan oleh Subdit TB Kementrian Kesehatan bekerja sama dengan KNCV Tuberculosis Foundation yang memiliki tim di Indonesia. kegiatan bernama "Workshop Blogger #SahabatJKN #LawanTB" ini dilaksanakan selama 3 hari dengan agenda yang penuh dengan bahan bahan pelajaran bagi saya. Ini adalah kali pertama saya mengikuti sebuah workshop kesehatan dengan menyandang ransel seorang Blogger, bukan Aktifis HIV. Walau tidak bisa dipungkiri, dalam perjalanan belajar kemarin, tidak jarang saya memberikan pendapat, pertanyaan bahkan berbagi cerita dari sudut pandang seorang perempuan yang hidup dengan HIV dan pernah mengidap penyakit TBC.
 
Apa yang terjadi setelahnya adalah saya makin menyadari bahwa, semua orang begitu takut dengan Virus HIV yang penularannya tidak mudah, namun cenderung cuek dengan Kuman Tuberculosis yang dapat menular mudah, khususnya jika anda tinggal di lingkungan yang kotor dan padat penduduk. Dan ancaman ini, bagi saya, menjadi persoalan baru bagi mereka yang hidup dengan HIV. Mengapa? Itu semua dikarenakan HIV (Human Immunodeficiency virus), dapat menyerang kekebalan tubuh manusia, dan melemahkannya, sehingga saat ada seseorang yang memiliki kuman TBC, lalu batuk, bersin atau membuang ludah, dengan mudahnya dapat menularkan 'kami' yang hidup dengan HIV.

Seperti yang sudah saya tulis di paragraf ke-2, meskipun TBC menular dengan sangat mudah, bukan berarti kita harus menjauhi mereka yang mengidap TBC. Namun setiap orang termasuk pengidap HIV harus memiliki kesadaran yang sangat penting menggunakan masker saat sedang batuk, lalu berobat ke layanan kesehatan supaya batuk segera sembuh dan dicari tahu, apakah batuk itu adalah batuk biasa atau batuk yang mengandung kuman TBC. Karena seringkali, saya merasakan sendiri saat harus kontrol ke Rumah Sakit setiap bulannya, begitu banyak teman-teman ODHA yang batuk sembarangan, tidak menggunakan masker, meludah sembarangan. Bukan hanya membahayakan diri mereka sendiri, namun perilaku seperti itu juga membahayakan teman lainnya yang hidup dengan HIV, dan masyarakat di sekitarnya. Beruntungnya, klinik tempat saya berobat selalu menyediakan masker gratis. Sehingga, saat mendengar suara batuk dari ruang tunggu, akan ada petugas yang memberikan masker tersebut secara gratis.

Salah satu dokter di RSHS menunjukan Obat TB tahap awal
Yang perlu dan penting untuk diketahui, TBC dapat disembuhkan. I feel it, saya pernah menjalani pengobatan TBC. Obatnya gratis disediakan pemerintah. Sehingga saat kita yang hidup dengan HIV atau siapapun yg mengidap TBC, tidak perlu khawatir, bahwa penyakit TBC dapat disembuhkan. Meskipun obatnya terlihat menyeramkan (berwarna merah, dan berukuran besar, jumlah banyaknya obat atau dosis yang diberikan dokter akan disesuaikan dengan berat badan di tubuh), namun saya merasakan pemulihan yang luar biasa saat karena saya mengikuti petunjuk yang diberikan dokter. Makan bergizi, istirahat teratur, dan yang paling penting adalah Minum Obat hingga tuntas. Dalam waktu (yang memang tidak sebentar), berat badan saya yang tadinya 35 Kg, meningkat ke angka 46Kg, pulih sehat dan dinyatakan sembuh dari TBC.

Apa yang terjadi saat obat TBC kita abaikan? Saya punya seorang sepupu yang mengidap TBC, dan tidak minum obat dengan teratur. Hingga kondisi kesehatannya memburuk, dan obat obatan yang diberikan untuk menyembuhkan TBC tidak lagi berfungsi untuk menyembuhkan. Saat kondisi memburuk, sepupu saya dirujuk ke dokter untuk mengetahui ada masalah apa. Kami semua cukup kaget saat mendengar bahwa dia mengidap TB MDR (Tuberculosis, Multidrug Resistance), Dimana TBC yang satu ini lebih sulit diobati, karena Kuman TB dalam tubuh telah resistan dengan obat yang tidak diminum dengan teratur tersebut. Sehingga sepupu saya ini dianjurkan untuk menjalani pengobatan TB MDR di RS Persahabatan, Jakarta Timur. Dia Harus datang setiap hari didampingi oleh ibu atau ayahnya bergantian, karena obat untuk pasien TB MDR harus dikonsumsi saat itu juga di RS, tidak boleh dibawa pulang, selain obat yang di oral, ada juga obat yang berbentuk suntikan, yang juga harus dilakukannya setiap hari. Aduh, saya gak kebayang bagaimana rasanya. Berkat dukungan keluarga dan semangat dari sepupu saya, pemulihan di tubuhnya pun terlihat dengan jelas, menurut dokter fase pemulihannya berjalan dengan baik, sehingga pengobatan TB MDR nya dapat dilaksanakan di Puskesmas di dekat rumahnya.

Wah, tidak mudah kan kalau kita kena TBC? Makanya, sebagai orang yang sehat dan memahami informasi, ada baiknya kita menjalani hidup sehat dengan menjaga lingkungan sekitar tempat kita tinggal, dan menjaga kebersihan diri.  Pesan tambahan lainnya adalah, bagi sahabat sahabat saya yang memiliki virus HIV dalam tubuh, harus extra proteksi dalam menjaga kesehatan. Jangan sampai kekebalan tuh yang lemah mengambil kesempatan dan memberi ruang kepada Kuman TBC masuk kedalam tubuh.

13 komentar:

  1. Yang penting jangan sampe kena HIV :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, protect yourself ya mas, Sehat selalu. Jangan sakit sakit, baik HIV ataupun TBC :)

      Hapus
  2. Itu krn org2 yg ga ngerti selalu menganggab TBC cuma batuk biasa mba..-__- Dan virus HIV bisa mematikan. Makanya lgs pd ngeremehin bgitu dgr kata2 TBC.. Jgn sampe deh ya ketularan TBC...ga kebayang proses sembuhnya yg lama itu... walo ada asuransi dari kantor, tapi pasti kerjaan terbengkalai krn hrs ambil cuti ampe smbuh, plus ditambah pikiran2 negatif rekan sekantor bgitu tau kita kena TBC..-__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harus kerja keras nih bantu menyadarkan Masyarakat bahwa TBC bisa menular dgn mudah, dan menjaga lingkungan tempat tinggal juga penting ting ting! :)

      Hapus
  3. Mengikuti workshop kemarin bener2 membuka wawasan saya tentang TB lho, Ayu. Ditambah pula sharing dari kamu tentang TB dan HIV berdasarkan pengalaman pribadi yang bikin audience salut dengan kekuatan dan ketegaran kamu dalam menghadapi semua itu, sungguh bikin semakin bangga mengenalmu, lho! Bener banget, penderita TB tak seharusnya dijauhi, tetapi haruslah disupport agar mau berobat hingga tuntas sehingga tidak menularkan pada yang lainnya. :)
    Nice share, Ayu! Salam sayang untuk Malika yaaa.

    BalasHapus
  4. Nice artikel mba, ga banyak orang yang berani blak-blakan cerita seperti dirimu. Bangga mengenalmu mba Ayu.....


    Salam sayang untuk Malika yaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Sayang Juga untukmu dari kami :))

      Hapus
  5. Holaaa, Ayu. Diantara semua peserta workshop, yang bikin aku amaze salah satunya dirimu. Ga nyangka Ayu yang ceria dan enerjik pernah berjibaku dengan kuman TB dan hriup dengan HIV. Sebenarnya udah pernah stalking blogmu sebelum ini pas arisan KEB tempo hari. Kesibukan sebagai panitia ga sempet ngajak ngobrol dan seneng pas lihat ada Ayu ikutan workshop. Terus menebar semangat positif, ya, Ayu. Aku belajar banyak hal dari workshop kemarrin. Alhamdulillah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh ada yg typo, hidup, maksudnya, bukan hriup :)

      Hapus
  6. Maak, almarhum ayahku juga positif tb dan DM. Penderita DM juga sangat riskan terkena TB. Mirisnya saya baru tahu kalo almarhum terkena TB saat saya sudah menjadi dokter. Ngga sengaja waktu bongkar2 lemari almarhum nemuin obat rifampisin. Sempat menyesal kenapa baru tahu sekarang di saat ayah sudah ngga ada, tapi saya sadari,posisi saya sebagai dokter bisa menjadi health promotor untuk orang lain

    BalasHapus
  7. Bener banget mbak. Aku juga pengobatan TB selama 6 blan dan 2blan pertama aku harus suntik tiap gari bergantian bokong kirivdan kanan hihi... tapi alhamdulillah semua telah berlalu. Semangat mbak salam sayang buat malika...

    BalasHapus
  8. NICE BANGET artikelnya, ini sangat membantu semua orang yang masih belum mengetahui betapa bahayanya penyakit-penyakit ini.

    BalasHapus