Jumat, 20 Maret 2015

6 Tahun Yang Memberi Kekuatan



source : google.com
Malam itu dia menangis, memelukku sambil membisikkan kata maaf. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku yang membalas pelukannya lebih erat. Tidak bisa berkata apa apa. Aku diam merasakan nafasnya yang satu satu naik turun, sambil sesekali menghapus air mata dari pria paling kuat yang pernah saya kenal dalam hidup. Beberapa jam yang lalu, dia suamiku mengalami hal buruk dalam hidupnya. Kurang lebih begitu menurut saya, hingga dia menangis dan menjatuhkan dirinya kedalam pelukan istrinya yang tubuhnya jauh lebih mungil ini. Malam itu, dia buang air besar berbentuk cair, dengan jumlah yang tidak biasa, hingga (maaf) berceceran di lantai. Saya yang malam itu sebenarnya cukup letih setelah seharian mengurus anak kami yang masih berusia 16 bulan, harus mengeluarkan tenaga extra untuk membersihkan semuanya. Tidak, saya tidak marah, ataupun kecewa. Sayapun menangis, namun apapun yang terjadi saya tetap harus melakukannya. Hingga semuanya selesai, saya masih harus mengurus sang suami yang sudah sebulan terakhir ini, bermandikan keringat setiap malam, Basah kuyup seperti habis kena hujan badai.

***

I knew exactly, there is something wrong with him. Tubuhnya semakin kurus, tulang di pipinya semakin kentara jelas. Padahal jika diperhatikan, porsi makannya normal, dia makan seperti biasa, bahkan sejak akhir tahun 2008 dia sudah berhenti merokok, minum kopi dan begadang. Tapi pribadinya yang keras kepala, menyulitkan saya untuk mencari tahu ada apa dengannya. Dia tidak mau diajak ke rumah sakit. Dia memilih untuk minum obat warung untuk meredakan diarenya, atau sakit kepalanya, atau demamnya yang datang dan pergi sesuka hati. Terus begitu sampai akhirnya separuh bagian tubuhnya kaku seperti terkena stroke.

Saya harus memohon kepadanya agar kita bisa pergi ke rumah sakit untuk memeriksa. Paling tidak kita harus mencari tahu. Namun entah apa jalan apa yang ditunjukan kepada kami, saat suami memutuskan bersedia dibawa ke dokter, kami tidak mendapatkan diagnose yang jelas. Hingga kami pergi ke rumah sakit besar dengan pelayanan terbaik pun, hampir semua dokter umum hingga dokter penyakit dalam berkata suami saya baik baik saja. Mereka semua berkata suami saya kelelahan, perlu bed rest, jangan bekerja terlalu keras. Ini gak bener, batin saya dalam hati. Padahal ada yang aneh dengan semua hasil pemeriksaan darahnya. Saat itu jalan buntu menghadang saya dan suami. Kami tidak tahu harus apa, harus kemana untuk mencari jawaban. Semua alternative pengobatan sudah kami laksanakan. Tetap tidak ada perubahan. Kondisi suami semakin memburuk.

 ***

Saya ingat betul. Sore itu adalah sore di bulan kedua dia tidak bekerja. Saya memohon kepada pihak kantor untuk memberikannya cuti, karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan untuknya bekerja. Saya cukup berbahagia, karena sore itu langit bulan Maret begitu cerah, da nada sekitar 15 motor parkir di depan rumah orangtua saya, ada 20 orang yang membesuk suami saya. Bahagia rasanya. Semuanya adalah rekan kerja. Walaupun, kondisinya yang memburuk tidak menyurutkan semangatnya untuk bertemu teman teman yang sudah datang menyambangi kami dan mengiringkan doa untuk kesembuhannya.

Namun sayangnya, Saat itu, suami saya sudah tidak bisa bicara jelas, lidahnya kelu, kebanyakan dia tidak mengingat apapun, hanya ingat nama sang anak, dan juga mengalami kesulitan untuk mengungkapkan keinginan serta perasaannya. Tubuh bagian kanannya kaku, tidak bisa digerakan. Sehingga untuk melakukan aktifitas sehari hari seperti ke kamar mandi, makan, sikat gigi, shalat, semua dibantu oleh saya, kami harus memapahnya jika dia lelah berbaring seharian di kasur. Dia pun sudah mengenakan diapers untuk dewasa, karena sudah tidak mungkin untuk bolak balik ke toilet untuk buang air besar ataupun kecil. Tidak ada yang menyangka, senyumnya sore itu, merupakan senyum terakhir yang kami lihat bersama. Baik saya, sang buah hati, maupun serombingan teman yang datang membesuk, tidak pernah menyangka bahwa canda yang ala kadarnya sore itu, merupakan pertemuan terakhir kita semua dengannya dalam keadaan sadar.

***

High Care Unit, Gedung teratai - RSUP Fatmawati, adalah selanjutnya tempat terakhir kami menghabiskan waktu bersama. Di setiap pukul 11 siang, dan 7 malam, di waktu waktu jam besuk rumah sakit. Selain waktu waktu tersebut, perawat tidak mengijinkan kami untuk masuk. Saya seperti merasa waktu saya sudah tidak banyak. Namun sesaat, saya tetap optimis. Tubuhnya berbaring, bernyawa, namun tangannya tak mampu lagi menggenggam erat tangan ini, bahunya tidak lagi bisa kusandari beban beban kehidupan yang selama ini berkeliaran di sekitar kami, pelukannya kini terhalang berbagai selang yang masuk ke hidung, mulut, pergelangan tangan dan monitor jantungnya. Kami menghabiskan 5 hari bersama di ruang HCU tersebut dengan cerita-cerita sederhana dariku yang entah didengarnya atau tidak.

Malam itu, tepatnya malam ini 2,189 hari yang lalu, dia menghampiri saya dalam mimpi. Dan berkata “aku capek, aku pengen tidur.” Lalu dia memberikan pelukan terakhirnya dalam mimpiku. Dan keesokan harinya, Sabtu, 21 Maret 2009, 2 minggu setelah ulangtahun putri kami yang ke 24 bulan, tepat pukul 20.30, dia pergi meninggalkan kami semua. Meninggalkan saya, putri kecilnya yang berambut ikal, meninggalkan semua kenangan dan 9 tahun kebersamaan kami.    

***

almarhum Suami saya merupakan sosok kharismatik, sang guru Bahasa inggris untuk anak anak kampung dekat rumah kami, yang gemar bertualang, gemar membaca dan ngobrol hingga larut malam, sang penyuka makanan kecil dan cemilan enak, sang vocalis band punk yang nyentrik dan idola banyak wanita pada masanya. Sosok sahabat terbaik yang pernah saya kenal sejak saya duduk di bangku SMA, hingga 9 tahun masa pacaran dan pernikahan kami, saya tidak pernah sekalipun menyesali kepergiannya. Saya tidak pernah menangisi apa yang kini ada di dalam tubuh saya. Hingga hari ini, saya mengenang keabadiannya dalam ruang hati saya yang terdalam, 6 tahun sudah ragamu terkubur dalam tanah yang juga akan menjadi rumah terakhirku nanti, namun pelukan dan sosokmu selalu hadir setiap detik dalam wajah putri kita yang kini telah berusia 8 tahun.

me, him, daughter - at 2007, 7 days after malika born

Malam ini, teriring doa dan surat Al FAtihah. Aku mengenangmu, memelukmu, wahai suami, kakak, sahabat, ayah kami tercinta Abet perhida Eriz. Allahumma firlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dosamu, dan menerima amal ibadahmu. We love you abi, we love you always, and always!


"Segala puji bagi Allah 
yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) 
setelah mematikan kami (menidurkan). 
Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak)."


Tulisan lain tentang betsi :








28 komentar:

  1. Hiks. Al fatihah teriring untuk almarhum

    BalasHapus
  2. Mengharukan. Semoga senantiasa kuat mbak.

    BalasHapus
  3. Alfatihah...smua qt bakal berpulang kepada Nya...semngattt mbak....:')

    BalasHapus
  4. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Abinya Malika. Dan semoga Mom dan Malika senantiasa Ikhlas dan Tabah. Aaamiiiin

    BalasHapus
  5. Terharu Mak, dah 6 tahun berlalu yaa, semoga slalu kuat menjalani kerasnya hidup yaa,semangat :)

    BalasHapus
  6. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa almarhum, melapangkan kuburnya, memberikannya nikmat kubur, dan menerima segala amal ibadahnya. aamiin...

    Semoga mom dan malika senantiasa diberi kesabaran, ketabahan, dan kekuatan dalam menjalani hidup. aamiin...

    BalasHapus
  7. Ayu, alfatihah utk almarhum. Suami Ayu tercinta kini sdh tenang dan terlepas dr rasa sakit. Jaga, rawat dan berjuanglah utk harta peninggalannya, sang permata hati.

    BalasHapus
  8. semoga almarhum suami diampuni dosa2nya dan ditempatkan ditempat terbaik di sisi Allah SWT. karena ada istri dan puteri yg sholeha yg selalu mendoakannya..

    BalasHapus
  9. Semoga Allah mengampuni dosanya, dan ayu dan anak diberi kekuatan, rejeki dan kebahagiaan aamiin

    BalasHapus
  10. Be strong ya Mbak...# Peluk

    BalasHapus
  11. Al.fatihah

    Selalu semangat ya mba

    BalasHapus
  12. semoga selalu di beri kekuatan mba....

    BalasHapus
  13. Amin..Ya Allah maak... ikut ngerasain buliran air mata mak... buat sampai terukir indah kalimat ini... smg suami mak bahagia lihat ketegaran, mak....

    BalasHapus
  14. Al Fathihah, suami itu belahan jiwa...kehilangan suami seperti kehilangan separuh tubuh kata Mamaku saat ditinggal Abah, tetap semangat ya Ayu

    BalasHapus
  15. Doa terbaik utk almarhum suami. Salam kenal mbaa.... kalau boleh tahu dlu suami sakit apa?

    BalasHapus
  16. ah mak..jadi mewek bacanya

    BalasHapus
  17. Semoga doa emak terkabul dan Alm diberi tempat mulia. Kenapa ya, para suami sulit betul dibawa berobat?

    BalasHapus
  18. Membaca tulisan ini, terlihat sekali ketegaran sosok Mak, tetap semangat!

    BalasHapus
  19. Salut utk ketabahan Dan ketegaran mba. :). Ga semua org bs sekuat itu kalo dapat cobaan bgini.

    BalasHapus
  20. Terharu membaca ceritanya mak... krn baru 4 hari lalu pun paman saya meninggalkan istrinya setelah sakit parah selama 6 thn dan kisahnya mirip spt ini. Mdh2an keluarga diberi kesabaran & kekuatan ya mak... Aamiin. Al Fatihah...

    BalasHapus
  21. Allahumma firlahu warhamhu waafihi wa'fuanhu...slm knl mak :)

    BalasHapus
  22. Allahumaghfirlahu warhamhu waafihu

    BalasHapus
  23. Mbak, ... kuat banget. Mbak kuat banget. Hebat! :'))

    BalasHapus
  24. Allahumaghfirlahu warhamhu waafihu...semoga mb dan putrinya diberi kekuatan dan kemudahan segala urusan #peluk

    BalasHapus
  25. Semangat untuk emak dan putri cantiknya, moga suami diberi tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin...

    BalasHapus