Senin, 27 April 2020

Cinta yang Mengubah Hidupku Part #3

Kala itu hari jadian merupakan moment yang sangat sakral. Setiap pasangan akan mengingat kapan mereka mengikrarkan janji untuk menjadi sepasang kekasih. Mulai dari hari, tanggal, bulan, tahun hingga waktu ikrar dan tempat menyatakan cinta. Huh, sudah macam akad nikah saja. Bedanya ini gak perlu saksi, hanya dua merpati itu saja yang tahu.

Ada satu masa dimana setelah mengenalku, Abet pamit untuk pergi ke suatu tempat untuk menjalani pendidikan pecinta alam. Tak pernah sebelumnya ada seseorang pamit padaku untuk pergi ke suatu tempat dalam waktu lama, sambil berjanji di hari kepulangannya dia akan menghubungiku. Sehingga jika ada telfon berdering di malam hari sebaiknya aku yang menjawabnya.

Tepat pukul 11 malam tanggal 20 Desember 2001 telepon di rumah berdering.

Baca Cerita Sebelumnya di sini

“Halo, Yu.. Aku di telfon umum nih baru aja sampe di lebak bulus” begitu katanya.
“Kenapa gak pulang aja dulu, kita telfonan dari rumah?” tanyaku
“Gak bisa, aku harus ngomong sekarang” jawabnya agak ngotot aku terpaksa mengiyakan
“Tiga hari ini ngapain aja di sekolah?”
“Sekolah? Ya belajar dong. Masa aku bolos terus.”
“Soalnya yang ngajak bolos lagi sibuk ya.”
“Iya sepi juga ga ada yang telfon atau jemput ke sekolah dan ngajak ngobrol sepanjang perjalanan pulang.” Jawabku jujur
“Lalu maunya gimana?” tanyanya
“Maksudnya maunya gimana?” tanyaku balik kebingungan
“Iya, kamu maunya setiap hari aku jemput, telfonan dan ngobrol sama aku kah? Atau gimana? Biar aku tahu harus apa?”
Aku malah tertawa “Wah ketawa berarti dia senyum senyum nih di sana. Oke aku tahu harus apa?”
“Ayu, jadi pacarku ya? Aku akan jemput kamu setiap hari dan kita bisa berbagi cerita setiap saat.”

Aku terdiam sejenak, bingung lebih tepatnya harus merespon seperti apa karena detik ini ada seseorang yang baru saja menyatakan cintanya.
“eh, mm.. iya mau.” Jawabku malu malu
Lalu terdengar nada koin telah habis.  “Eh maaf aku kehabisan koin!” lalu telfon mati sebelum sempat aku mendengar responnya

Aku terduduk lemas di ruang tamu yang semua lampunya telah padam, hanya penerangan dari teras depan yang sinarnya membuatku tetap terjaga dan sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Laki laki itu akhirnya menjadi kekasihku.

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar