Sabtu, 16 Mei 2020

Cinta yang Mengubah Hidupku #13

Sialan!

Kenapa aku mesti terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Bukankah harusnya aku saat ini sibuk belajar dan menikmati masa sekolahku. Bukankah menjadi ketua OSIS adalah hal yang sulit dan butuh konsentrasi untuk mengelola organisasi sekolah ini. Tidak tidak… nyatanya aku memang tidak pernah menyukai instansi pendidikan ini. Mulai sejak kecil hingga saat ini aku merasa ini hanya formalitas dan darma baktiku pada kedua orangtuaku. Aku tidak pernah menyukai sekolah meskipun aku menyukai teman teman dan cerita cerita yang terjadi di sini.

Sekarang aku sama sekali tidak pernah memikirkan sekolah. Aku hanya berangkat dan kembali lagi ke rumah seperti rutinitas yang tak bernyawa. Aku tetap bersenandung dan tersenyum sepanjang perjalananku namun aku tidak memikirkan sekolah. Aku memikirkan Abet.

Setelah obrolan panjang kami malam itu, Abet mengantarkanku pulang seperti tidak ada beban. Seperti kami kembali sedia kala dan baik baik saja. Lantas aku yang kemudian kebingungan. Dia tidak pernah merasa memutuskan hubungan kami, dia hanya merasa perlu untuk rehat sejenak dan menyembuhkan dirinya dari kecanduan. Tapi dia sama sekali tidak memikirkanku dan terkesan seperti meninggalkanku sehingga Opi kini terlibat. Aku tidak mampu meninggalkan orang sebaik Opi, tapi aku juga tidak mau kehilangan Abet lagi. Kini aku harus memutar otak dan mencari cara untuk menyampaikan hal ini padanya.

Baca cerita sebelumnya di sini

“Aku mau ngomong” kataku suatu hari saat kami tiba di rumah sepulang sekolah. Yup dia kembali rutin mengantar dan menjemputku sekolah. Seperti penebusan dosa dan pembuktian bahwa kini dia kembali sebagai orang yang lebih baik.
“Ya ngomong aja lah, kenapa mesti seserius ini?”
“Ini memang serius. Please jangan marah…”

Dia memandangku dan mendengarkan.

“Waktu kamu pergi hampir berbulan bulan kemarin tidak ada kabar. Aku pikir kita sudah..”
“Putus? Terus kamu dekat dengan laki laki yang rambutnya panjang itu?”
“Lho?? Kok… kamu..”
“Yu, sebelum kita ketemu di kolam renang aku sudah lama nungguin kamu.”
“Kamu ngikutin aku?”
“Udahh, pokoknya aku tahu. Lalu kamu pacaran sama dia?”
“Aku gak tau hubungan kami seperti apa?”
“Lho kok ga tau? Memangnya dia gak bilang sama kamu hubungan kalian kayak gimana?”
“Enggak. Dia Cuma nyium aku lalu kami jalan dan saling berkirim pesan. Itu aja. Aku pikir kami.. hmm.. dekat.. ”

Dia tersenyum lalu memberikan telfon genggamku.

“Mumpung baru dekat. Telfon dia sekarang. Bilang, kamu sudah ga bisa dekat lagi sama dia”
“Tapi..”
“Atau kamu mau dekat sama dia aja dan kita sudahan”
“Enggak sih.. tapi…”
“tapi apa?”

Lalu aku menekan tombol panggilan dan namanya sudah terpampang di sini. Nada dering terdengar sangat lama karena aku berfikir keras dalam beberapa detik lagi aku harus menyampaikan apa pada Opi.

“Halo”
“hei lagi dimana?”
“Lagi bongkar mobil nih, di bengkel. Kamu dimana?”
“Di rumah. Aku mau ngomong”
“Nanti aja abis aku bongkar mobil ya!”
“Jangan, sekarang aja”

Aku terdiam sejenak dan melihat Abet yang menunggguku menyampaikan pesan itu.

“Aku minta maaf Pi. Aku ga bisa jalan lagi sama kamu” lalu aku mematikan panggilan telfonku dan menarik nafas panjang. Aku merasakan tangan Abet mengelus punggungku sambil kemudian berbisik “I love you Ayu”

Lalu terlihat nama ‘Opi Honey’ di layar handphone bordering. Panggilan masuk yang kuabaikan.

Bersambung.

2 komentar:

  1. Kalau bahan tulisannya udah ada gini, nanti begitu beres diseriusin jadi buku aja, Yu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. rencananya gitu dee... tapi belum pede nih. tes pasar dulu basic nya ini. nanti tinggal dikembangin

      Hapus