Minggu, 17 Mei 2020

Cinta yang Mengubah Hidupku #14

Abet melanjutkan kuliahnya yang terbengkalai. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semuanya berantakan karena narkoba. Perbedaan usia kami hanya terpaut empat tahun tapi rasanya pengalaman hidupnya seperti yang sepuluh tahun lebih lama dariku hidup. Abet juga senang memotret, dia selalu membawa kameranya saat bepergian dan sesekali akan berhenti jika menemukan objek yang menarik untuk ditangkap oleh lensa kameranya.

Kumpulan anak anak pecinta alamnya pun masih setia membuka pintu untuknya kembali. Dari perjalanan panjang kami, aku akhirnya mengetahui bahwa gunung menjadi tempatnya pergi dan memohon maaf pada diri jika sedang kembali tersesat. Katanya, di gunung tidak ada narkoba jadi kalau kecanduannya mulai datang meski sakit dia akan naik gunung bersama kawan kawannya untuk kemudian menyembuhkan diri. Alam membantunya sembuh.

Ibunya memiliki usaha catering masakan Padang yang dikelola bersama keluarga di rumahnya. Masakan ibunya sangat enak, aku tidak pernah begitu menyukai masakan Padang sebelumnya. Sang ayah bekerja sebagai staf kapal pesiar dan selalu bepergian, sejak kami bertemu pertama kali aku belum pernah bertemu dengan sang ayah. Sampai saat hari itu datang. Ada panggilan masuk untukku dari sebuah nomer yang tidak ku kenal.

“Halo!” suaranya ketus
“Apa benar ini dengan Ayu?”
“Halo, betul pak? Ini dengan siapa ya?”
“Saya Eriz, ayahnya Abet. Benar anak saya pinjam uang sama kamu seratus ribu?”
“Hah, gimana pak? Bingung saya..”
“Iya kalau dia benar pinjam uang sama kamu saya akan kasih ke anaknya untuk gantikan uang kamu. Dia suka bohong soalnya.”

Baca cerita sebelumnya di sini

Entah apa yang merasukiku lantas aku malah menjawab “Iya, Abet pinjam uang saya”
Aku hanya merasa perlu membuat keadaanya tidak menjadi lebih rumit. Aku tau aku akan selalu bisa mengklarifikasi padanya karena kali ini dia tidak akan kemana mana.

“Jadi ayahmu sudah pulang dari berlayar?”
“Sebentar aja, mungkin dua minggu tapi paling lama sebulan. Aku ga suka dia di rumah”
“Kenapa?”
“Ngatur”
“Ya kan dia bapak kamu”
“Iya tapi dia salah satu alasanku pake narkoba. Dia selalu menghakimiku sebelum tau apa yang sedang ku lakukan atau ku rasakan. Dia gak sadar kalau dia gak pernah ada sejak aku kecil. Waktu aku lahir mama sendirian aja dengan Uni dan saudara saudaranya yang lain, dia masih ada di tengah laut.”
“Iya kan dia sedang kerja untuk kalian?”
“Aku baru benar benar bisa mengenalinya saat usiaku tiga tahun. Aku memanggilnya om. Karena aku hanya sesekali saja melihat dia. Mama dan papa terus memberiku uang dan barang barang yang ku butuhkan. Mereka berharap bisa membahagiakanku dengan cara itu. Padahal yang ku butuhkan adalah kehadiran mereka. Sedangkan mereka hanya sibuk dengan pekerjaannya saja dan usaha milik keluarga”
“Lalu yang uang seratus ribu itu bagaimana?”
“Aku sekarang sudah ga bisa minta uang sama mama setiap papa datang. Dia akan curiga kalau aku pasti pakai buat beli putaw. Jadi mama suka kasih uang sembunyi sembunyi”
“Seratus ribu kan banyak. Buat apa sih?”
“Buat aku sehari hari lah, beli bensin… beli makan… telfon kamu… itu kan pake uang. Maaf aku harus bohong dan bawa bawa kamu ke papa hanya supaya aku bisa dikasih uang mingguan”
“Gak apa apa. Tapi lain kali kasih tau dulu jadi aku gak bingung”

Bersambung.

2 komentar:

  1. Gue ngikutin cerbung lu, Yu. Parah. Gua geregetan deh bacanya. Kalau gue kenal lu dari dulu, kayaknya gue udah mengerahkan seluruh "kelunarvirgoan" gue ke elu :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha alhamdulilah geregetannn... gw aja nulisnya geregetan why dulu gw teh gini pisan wakakak

      Hapus